Manyun. Ya, itulah yang nampak pada wajah
Echa siang ini. Saat di kelas Bisnis Internasionalnya Mr. Kender, Echa nampak
tidak bersemangat mengikuti kegiatan perkuliahan hari ini sepertinya materi
yang diajarkan siang ini cukup membosankan baginya. Dari tadi Echa hanya
mencoret-coret buku tulisnya seolah sedang mencatat materi padahal ia hanya
sibuk menuliskan list tempat untuk liburan musim panas terakhirnya di Paris ini
karena inilah tahun terakhir ia di bangku kuliah.
Avel hanya memperhatikan gerak-gerik Echa
yang nampak kurang bersemangat hari ini. Saat jam kelas ini usai, Avel segera
menghampiri meja Echa yang tidak disadari Echa. Avel melihat dari balik
punggung Echa apa yang sedang dituliskannya di kertas itu. Avel seketika
mendapatkan ide dan dia hanya senyum-senyum sendiri saja saat itu. Dan kemudian
segera bergegas menuju Echa untuk mengajaknya ke kafetaria kampus karena break kuliah ini hanya berlangsung 30
menit.
Kafetaria...
Sesampainya mereka di kafetaria, mereka
langsung memesan makanan dan minuman favoritnya french fries&coke sangat sederhana.
“Eh, nanti jadi kan?” tanya Avel pada Echa
setelah mereka mendapatkan mejanya di baris kedua pintu masuk.
“Of course. Nanti gue kenalin sama teman gue
yang satu ini. Dia musisi jazz internasional, jadi nanti jangan aneh kalau
gayanya yaaa kayak pangeran-pangeran charming
gitu deh.” kata Echa singkat tapi sebenarnya ingin dipanjang-lebarkan.
“Ouh. Pasti bukan orang Indonesia.” tebak
Avel akan teman Echa tersebut.
“Iya, dia pure
parisian. Jadi siapin baik-baik pake Bahasa Perancis terus nanti, tapi yaaa
berhubung dia musisi internasional pasti Englishnya
ga buruk.” Jelas Echa tentang Nick.
“Seru juga. Berarti nanti kalau mau ngomongin
dia, pake Bahasa Indonesia aja depan dia pasti ga ngerti kan. Hahaha..” ucap
Avel semena-mena ingin mengerjai teman Echa itu.
“Hahaha... ya jangan gitu jugalah. Nanti dia
pasti nanyain maksudnya apa, kan males ngejelasinnya.” terang Echa sedikit
terhibur dengan ide jahil Avel, namun agak kasihan juga jika itu dilakukan
kepada Nick.
Tiga puluh menit kemudian mereka pun kembali
ke dalam kelas untuk melanjutkan materi perkuliahan Bisnis Internasionalnya
yang tinggal tersisa waktu satu jam lagi.
“It’s time to going bored again, Echa.” ucap
Echa pada dirinya sendiri, namun masih bisa terdengar oleh Avel ketika ia
melalui meja Echa untuk menuju mejanya dan Avel hanya senyum kecil sembari
menggeleng-gelengkan kepalanya.
Satu jam tidak begitu terasa lama bagi Avel,
namun tidak bagi Echa yang nampak sangat bersyukur akhirnya kelas itu telah
usai dan mereka pun bersiap-siap untuk menuju tempat pertemuan antara mereka
dan Nick.
La
Rotonde...
Saat memasuki kafe ini, suasana nampak begitu
bersemangat dengan dinding yang berwarnakan merah yang nampak membuat
orang-orang yang datang bangkit hasratnya untuk makan, kursi coklat dan meja
yang beralaskan kain putih menambah suasana menjadi cantik.
Ketika Echa dan Avel memasuki ruangan kafe
ini, mereka langsung dapat memilih meja secara leluasa karena nampak sedang
tidak begitu ramai. Avel memilihkan tempat persis di pojok yang bersisikan
jendela dengan sekat-sekat kayu.
Mereka tiba lebih awal 15 menit dari jam
janji pertemuannya dengan Nick. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan
makanan terlebih dahulu karena perut mereka sudah tak bisa menunggu. Mereka
memesan cukup banyak diantaranya beef
chops, beef steaks, the oysters,dan
the sole menuniere.
Lima belas menit kemudian makanan mereka pun
tiba namun Nick belum juga ada tanda-tanda batang hidungnya. Akhirnya mereka
memutuskan untuk makan saja duluan dan sepuluh menit kemudian mereka selesai
makan tepat dengan Nick baru tiba di kafe tersebut.
“Hey, sorry i’m late cause i’ve training for
my mini concert in 3 days later.” Ucap Nick penuh penyesalan karena
keterlambatannya yang cukup lama.
“Oh, no problem. But we have lunch first
before you came. So, if you wanna order yours. It’s okay. And this is my friend
Carvel.” Kata Echa menjelaskan ditutup dengan ia memperkenalkan Avel pada Nick.
“Hey, Carvel. I’m Nick.” Ucap Nick sembari
menjulurkan tangannya tanda perkenalan mereka.
“Hey, too. Nice to know you.” Balas Avel
dengan menjabat uluran tangan Nick tadi.
Setelah perkenalan itu Echa menceritakan awal
pertemuannya dengan Avel dan tentunya bukan bagian saat ia dulu menguntit atau
memata-matai Avel secara diam-diam saat bermain basket di lapangan taman
kompleks perumahan mereka. Echa hanya menceritakan dari pertemuan yang Avel
ketahui saja yaitu saat Avel usai bertanding basket dan saat Avel masih jadian
sama Navy sahabatnya di Indonesia. Echa menjelaskan panjang lebar sampai cerita
pertemuannya dengan Avel di pesawat dan membuatnya semakin akrab sampai saat
ini menjalin persahabatan.
Nick hanya mendengarkan saja dengan baik dan
tertawa di sela cerita Echa yang lucu. Echa selalu terlihat menarik bagi Nick
dan tidak pernah berubah sejak dulu seperti yang Nick kenal selalu ceria. Nick
melihat keakraban yang amat dekat antara Avel dan Echa bahkan melebihi kata
persahabatan yang mereka ucapkan. Dan entah kenapa Nick merasa tersaingi yang
seharusnya tak ia rasakan karena Echa dengannya juga hanya sekedar sahabat dan
tidak pernah lebih dari sejak dulu.
Tanpa Nick sadari Avel mengamati dirinya
lekat-lekat. Avel memperhatikan gerak-gerik Nick yang nampak serius sekali mendengarkan
Echa seperti menyimpan sesuatu hal. Avel mengamati gaya berpakaian Nick juga
yang sesuai sekali dengan apa yang diucapkan Echa saat di kafetaria kampus
tadi, gayanya memang baik bagi Avel. Dan tanpa Avel duga desir itu muncul lagi
ketika ia terlalu dalam mengamati tatapan Nick pada Echa yang sibuk mengoceh
dari tadi.
Setelah Echa selesai bercerita, sekarang
giliran Nick yang bercerita. Nick menjelaskan tentang mini concertnya yang
hanya berdurasi 1,5 jam saja dan baru pertama kali ia mengadakan konser tunggal
seperti ini. Dan ia memilih Paris sebagai tempat pertamanya untuk menghargai
tempat kelahirannya.
Avel juga menyimak dengan baik rencana mini
concert Nick tersebut karena sejujurnya Avel juga menyukai aliran musik jazz
sama dengan yang dimainkan oleh Nick. Echa juga tahu akan selera musik favorit
Avel ini dan mungkin karena itu juga Echa mengajaknya kesini.
Tidak terasa mereka sudah berbincang-bincang
selama 1,5 jam. Lebih setengah jam dari yang ditargetkan Echa dan Echa pun
menyudahi percakapan ini dengan menjelaskan pada Nick bahwa ia dan Avel harus
pulang untuk melanjutkan tugas mereka yang sudah deadline besok siang.
Nick pun menyetujui untuk mengakhiri
percakapan kali ini dan mengatakan sangat senang bisa kenal dengan Avel yang
ternyata memiliki selera musik yang sama dengannya. Dan oleh karena itu, Nick
pun sudah mempersiapkan 2 tiket gratis acara mini concertnya nanti. Kemudian
segera ia serahkan pada Echa dan Avel serta melambaikan tangan karena mereka
berbeda arah tujuan.
Rumah
Echa...
“Akhirnyaaaaa.. nyampe rumah juga. Capek.”
Ucap Echa sembari merebahkan dirinya di sofa coklat yang sangat comfy itu.
“Hahaha... tapi kita masih punya tugas dengan
deadline besok jadi kita begadang, Cha. Bolehlah kita istirahat dulu 15 menit.”
Kata Avel walaupun sedikit gusar karena ini sudah agak malam dan berarti dia
akan pulang sangat larut malam.
Tiba-tiba mamanya Echa datang menuju tempat
mereka baru tiba tadi dengan dua gelas orange
juice dan cemilan tentunya. Mama Echa juga menyarankan jika tugasnya
selesai larut malam, Avel boleh menginap di kamar kosong depan kamar Echa yang
sudah disiapkan oleh mamanya Echa tadi sebelum mereka pulang.
Akhirnya mereka pun
mengerjakan tugasnya di gazebo halaman belakang rumah Echa dan benar selesai
larut malam. Avel pun tidak gusar karena diizinkan menginap disana bahkan
dipinjamkan kaos gombrong Echa yang sangat muat dengan badan Avel.