Percayakah kamu akan cinta pada pandangan pertama?
Tak banyak orang yang percaya akan kekuatan cinta pada pandangan pertama. Tapi tak banyak juga orang yang menyangkal bahwa kekuatan cinta pada pandangan pertama itu ada.
Perasaan hati yang bagai tersengat aliran listrik saat pertama kali berjumpa dengan seseorang yang bahkan baru kita kenal.
Detak jantung yang berdegup tak beraturan seperti ingin melompat keluar dari sarangnya seakan tak terkendali.
Itulah yang dirasakan Ranny saat pertama kali bertemu dengannya. Lelaki yang mampu membuat Ranny merasakan kembali getaran cinta yang dulu pernah sirna. Ia mengerti bahwa ini tak benar dan tak semestinya. Namun ia tak begitu mengerti apa yang seharusnya dia lakukan. Ranny hanya mampu bertahan, berusaha, dan berkorban.
Hal apakah yang akan dihadapi Ranny? Mampukah ia?
Akankah cinta pada pandangan pertama itu menjadi cinta sejati?
Atau hanyalah kan menjadi cinta semu sesaat?
Rabu, 22 Februari 2012
When Loves Come
Like a couple of birds
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come
Kamis, 14 Februari 2012
20.27
Jumat, 17 Februari 2012
For You
Your smile, brightening my day
Your eyes, coloring my dream
May you'll be mine?
Never stop for hoping it
I've been trying to the another guy
But it's not same like you
You're different
I miss you
I really miss you so bad
Talking, joking, laughing
Happiness or sadness
It's all about you
I like it
I really need you
I really miss you
I really love you
I do
Your eyes, coloring my dream
May you'll be mine?
Never stop for hoping it
I've been trying to the another guy
But it's not same like you
You're different
I miss you
I really miss you so bad
Talking, joking, laughing
Happiness or sadness
It's all about you
I like it
I really need you
I really miss you
I really love you
I do
14 Desember 2011
22.55
For you #batman & #rainhaters
Kamis, 16 Februari 2012
SSC Part 8
Maladroit
Echa nampak bersemangat memilih-milih baju yang ada di salah satu shop yang berada di Les Quatre Shopping Mall yang terletak di suatu daerah bernamakan Parvis de La Defense. Ini adalah salah satu shopping center tersibuk di Paris dengan hypermarket dan beberapa shops didalamnya.
Echa hari ini memang sudah janji dengan mamanya untuk menemani berbelanja setelah ia usai kuliah. Ya, Echa pastinya menepati janji sama mama tersayangnya dong. Namun kali ini Echa terlihat sendirian memilih-milih baju di toko tersebut karena mamanya yang memutuskan untuk berbelanja berpencar untuk menghemat waktu. Agar waktu mereka masih tersisa banyak untuk bersiap-siap sebelum melakukan dinner malam ini.
Ya, malam ini Echa dan mamanya berencana untuk mengadakan dinner berdua saja. Mereka menyebutnya mom-daughter time! -it's so funny heard, tapi hal itulah yang biasa mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas family-timenya.
"Echa." sapa seorang pria yang terlihat seumuran dengannya, tinggi, tegap, putih layaknya Parisian lainnya, dan charming seperti dulu ya, seperti dulu anak laki-laki idola di sekolahnya saat SMP di Paris.
"Nick? Nicholas Fitzgerald? C'est vous?" jawab Echa dengan pertanyaan balik seakan tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Nick, first love-nya saat ia duduk di bangku SMP.
"Oui, c'est moi. Quand pensez-vous de revenir ici?" jawab Nick meyakinkan Echa bahwa ya inilah dia disini tepat didepan Echa.
"Depuis qui j'ai commence mon college a Tours." jawab Echa singkat karena entahlah Echa merasa sedikit canggung dapat bertemu lagi dengan Nick disini.
"Nice vous rencontrer à nouveau, peut tu me donner ton numéro?" ucap Nick dengan menyunggingkan senyumnya yang indah tapi tak seindah senyuman Avel pikir Echa. Entah kenapa tiba-tiba terlintas wajah Avel yang sedang tersenyum nampak begitu indah di pikiran Echa. Echa segera menghapus lamunan singkatnya itu.
"Bien entendu, cette." jawab Echa sembari menyebutkan nomor ponselnya perlahan kepada Nick.
"Oke merci. vous voir la prochaine fois. au revoir." kata Nick singkat untuk menutup percakapan mereka yang memang sangat singkat itu.
"Vous êtes les bienvenus. au revoir." balas Echa singkat sekenanya.
Setelah itu Echa pun melanjutkan penjelajahan berbelanjanya yang tadi sempat terpotong dengan pertemuan singkatnya dengan Nick first love-nya. Entah apa yang Echa rasakan sekarang terlebih setelah pertemuannya tadi, seakan membuka kembali kenangan-kenangan indahnya dulu dengan Nick.
Tak lama mamanya datang dan menghapuskan kembali lamunan Echa akan kisah cinta monyetnya itu. Dengan 4 kantong besar belanjaan dari hypermart tadi, mamanya menyuruhnya untuk segera bergegas memilih dan segera pulang. Maka Echa pun langsung mengambil pakaian yang telah ia pilih, membayar, dan segera bergegas pulang dengan mamanya.
Rumah...
Echa memilih gaun hitam dan berdandan seminimalis mungkin. Kemudian bergegas menuruni tangga rumahnya untuk menunggu mamanya yang juga sedang berias. Sembari menunggu mamanya, Echa pun menyalakan tv di ruang keluarga dan menonton channel E! News. Tak dia duga ternyata Nick ada dalam berita tersebut yang mengabarkan bahwa Nick akan menggelar mini concertnya. Ya, Nick sekarang sudah menjadi pianis jazz internasional yang diidamkan para wanita di dunia.
"Ternyata Nick udah terkenal. Ga nyangka dari ribetnya dia dulu les piano akan menjadikan dia musisi muda hebat gini." Echa membatin sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian mamanya pun muncul dari dalam kamarnya dan memanggil Echa untuk berangkat. Echa pun mematikan tv dan segera bergegas.
Restoran...
Akhirnya Echa dan mamanya pun tiba di salah satu restoran mahal dan mewah di Paris, L'Avenue yang terletak di 41, Avenue Montaigne. Restoran ini merupakan restoran favorit di kalangan selebritas dunia. Restoran yang bernuansakan suasana eropa dengan bunga sedap malam di sudut ruangan dan sofa berwarna ungu. Restoran ini juga memiliki meja di bagian terasnya. Rata-rata untuk makanan di restoran ini akan menghabiskan biaya 70 euro per orang. Mamanya sengaja memilihkan restoran ini untuk mereka berdua karena sudah lama mereka tidak spent night time bersama. Jadi, untuk sekali-kalinya tidak apa-apa makan di tempat semewah ini menurut mamanya.
Mereka masuk dan duduk di meja khusus dua orang yang sudah dipesan mamanya sejak seminggu yang lalu. Kemudian mereka memesan menu makanan dan minuman favorit khas restoran tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka pun berbincang-bincang membahas kegiatan-kegiatan yang telah mereka lalui selama Echa berada di Indonesia.
Tidak disangka Echa bertemu dengan Nick yang juga sedang makan disana bersama keluarganya. Echa pun menyapa dan lebih tidak disangka-sangka Mamanya Nick menawarkan untuk Echa dan mamanya duduk semeja dengan mereka. Karena ternyata mamanya Nick adalah teman sekantor mamanya. Oh sempitnya dunia batin Echa.
Dinner malam ini pun berlangsung dengan baik dan menyenangkan bagi orang-orang di meja itu tak terkecuali Echa. Suasana mulai riuh dengan canda tawa dan obrolan-obrolan renyah mamanya dan mamanya Nick. Namun Echa merasa satu hari ini selalu berkaitan dengan Nick dan itu membuatnya awkward.
to be continued...
Echa nampak bersemangat memilih-milih baju yang ada di salah satu shop yang berada di Les Quatre Shopping Mall yang terletak di suatu daerah bernamakan Parvis de La Defense. Ini adalah salah satu shopping center tersibuk di Paris dengan hypermarket dan beberapa shops didalamnya.
Echa hari ini memang sudah janji dengan mamanya untuk menemani berbelanja setelah ia usai kuliah. Ya, Echa pastinya menepati janji sama mama tersayangnya dong. Namun kali ini Echa terlihat sendirian memilih-milih baju di toko tersebut karena mamanya yang memutuskan untuk berbelanja berpencar untuk menghemat waktu. Agar waktu mereka masih tersisa banyak untuk bersiap-siap sebelum melakukan dinner malam ini.
Ya, malam ini Echa dan mamanya berencana untuk mengadakan dinner berdua saja. Mereka menyebutnya mom-daughter time! -it's so funny heard, tapi hal itulah yang biasa mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas family-timenya.
"Echa." sapa seorang pria yang terlihat seumuran dengannya, tinggi, tegap, putih layaknya Parisian lainnya, dan charming seperti dulu ya, seperti dulu anak laki-laki idola di sekolahnya saat SMP di Paris.
"Nick? Nicholas Fitzgerald? C'est vous?" jawab Echa dengan pertanyaan balik seakan tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Nick, first love-nya saat ia duduk di bangku SMP.
"Oui, c'est moi. Quand pensez-vous de revenir ici?" jawab Nick meyakinkan Echa bahwa ya inilah dia disini tepat didepan Echa.
"Depuis qui j'ai commence mon college a Tours." jawab Echa singkat karena entahlah Echa merasa sedikit canggung dapat bertemu lagi dengan Nick disini.
"Nice vous rencontrer à nouveau, peut tu me donner ton numéro?" ucap Nick dengan menyunggingkan senyumnya yang indah tapi tak seindah senyuman Avel pikir Echa. Entah kenapa tiba-tiba terlintas wajah Avel yang sedang tersenyum nampak begitu indah di pikiran Echa. Echa segera menghapus lamunan singkatnya itu.
"Bien entendu, cette." jawab Echa sembari menyebutkan nomor ponselnya perlahan kepada Nick.
"Oke merci. vous voir la prochaine fois. au revoir." kata Nick singkat untuk menutup percakapan mereka yang memang sangat singkat itu.
"Vous êtes les bienvenus. au revoir." balas Echa singkat sekenanya.
Setelah itu Echa pun melanjutkan penjelajahan berbelanjanya yang tadi sempat terpotong dengan pertemuan singkatnya dengan Nick first love-nya. Entah apa yang Echa rasakan sekarang terlebih setelah pertemuannya tadi, seakan membuka kembali kenangan-kenangan indahnya dulu dengan Nick.
Tak lama mamanya datang dan menghapuskan kembali lamunan Echa akan kisah cinta monyetnya itu. Dengan 4 kantong besar belanjaan dari hypermart tadi, mamanya menyuruhnya untuk segera bergegas memilih dan segera pulang. Maka Echa pun langsung mengambil pakaian yang telah ia pilih, membayar, dan segera bergegas pulang dengan mamanya.
Rumah...
Echa memilih gaun hitam dan berdandan seminimalis mungkin. Kemudian bergegas menuruni tangga rumahnya untuk menunggu mamanya yang juga sedang berias. Sembari menunggu mamanya, Echa pun menyalakan tv di ruang keluarga dan menonton channel E! News. Tak dia duga ternyata Nick ada dalam berita tersebut yang mengabarkan bahwa Nick akan menggelar mini concertnya. Ya, Nick sekarang sudah menjadi pianis jazz internasional yang diidamkan para wanita di dunia.
"Ternyata Nick udah terkenal. Ga nyangka dari ribetnya dia dulu les piano akan menjadikan dia musisi muda hebat gini." Echa membatin sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian mamanya pun muncul dari dalam kamarnya dan memanggil Echa untuk berangkat. Echa pun mematikan tv dan segera bergegas.
Restoran...
Akhirnya Echa dan mamanya pun tiba di salah satu restoran mahal dan mewah di Paris, L'Avenue yang terletak di 41, Avenue Montaigne. Restoran ini merupakan restoran favorit di kalangan selebritas dunia. Restoran yang bernuansakan suasana eropa dengan bunga sedap malam di sudut ruangan dan sofa berwarna ungu. Restoran ini juga memiliki meja di bagian terasnya. Rata-rata untuk makanan di restoran ini akan menghabiskan biaya 70 euro per orang. Mamanya sengaja memilihkan restoran ini untuk mereka berdua karena sudah lama mereka tidak spent night time bersama. Jadi, untuk sekali-kalinya tidak apa-apa makan di tempat semewah ini menurut mamanya.
Mereka masuk dan duduk di meja khusus dua orang yang sudah dipesan mamanya sejak seminggu yang lalu. Kemudian mereka memesan menu makanan dan minuman favorit khas restoran tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka pun berbincang-bincang membahas kegiatan-kegiatan yang telah mereka lalui selama Echa berada di Indonesia.
Tidak disangka Echa bertemu dengan Nick yang juga sedang makan disana bersama keluarganya. Echa pun menyapa dan lebih tidak disangka-sangka Mamanya Nick menawarkan untuk Echa dan mamanya duduk semeja dengan mereka. Karena ternyata mamanya Nick adalah teman sekantor mamanya. Oh sempitnya dunia batin Echa.
Dinner malam ini pun berlangsung dengan baik dan menyenangkan bagi orang-orang di meja itu tak terkecuali Echa. Suasana mulai riuh dengan canda tawa dan obrolan-obrolan renyah mamanya dan mamanya Nick. Namun Echa merasa satu hari ini selalu berkaitan dengan Nick dan itu membuatnya awkward.
to be continued...
Rabu, 15 Februari 2012
SSC Part 7
Tap... Tap... Tap...
Suara dentuman langkah kaki memang selalu terdengar lebih keras di koridor ini, koridor yang merupakan satu-satunya akses menuju pepustakaan yang terletak diujung sebelah kanan dari koridor tersebut.
Saat tiba didepan pintu berwarnakan putih cerah dengan garis kusen jingga yang membuat kesan bahwa akan ada sesuatu yang cerah dibalik pintu tersebut. Ya, anggap saja maksudnya itu adalah pencerahan dalam ilmu tentunya. Inilah perpustakaan yang didalamnya sangat terlihat modern dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas teknologi tercanggih abad ini.
Avel segera masuk ke dalam dan menuju rak buku mengenai perpajakan karena kemarin dosen bidang perpajakan Ms. Antoniette menugaskan semua muridnya secara berpasangan untuk mencari sumber-sumber yang terkait dengan laporan yang akan mereka buat, tentunya berkaitan dengan pajak.
Dan pasangan Avel dalam tugas ini tentunya adalah Echa. Karena menurut Avel, dalam mengerjakan tugas jika tugas itu harus berpasangan maka cara paling nyaman adalah dengan orang yang sudah dikenal dekat terlebih sesama Indonesian. Dan Ms. Antoniette juga tidak mempermasalahkan dengan siapa muridnya berpasangan, yang terpenting adalah tugas yang ia berikan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Untuk kali ini, Avel harus mencari sumber untuk tugas tersebut sendiri di perpustakaan karena Echa yang sudah punya janji terlebih dahulu dengan ibunya setelah usai kelas terakhir tadi.
Tanpa terasa dia merasa lelah setelah 1 jam mempelajari beberapa buku tentang perpajakan dan mencari sumber yang relevan. Avel pun menggerakkan tangan kirinya spontan dan menyenggol sebuah buku bersampul merah dengan judul 'Puisi Ironis'. Avel merasa tertarik untuk membaca isi buku tersebut walaupun matanya letih tuk melihat rangkaian kata-kata lagi.
Saat Avel membolak-balikkan buku tersebut, ia tertarik pada satu halaman dengan puisi yang berjudul When Loves Come
Like a couple of birds
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come
-Mayangrani, 2012
Seketika ada desir halus yang menyentak hatinya. Avel pun hanya bisa terdiam merenungi makna puisi itu dan ia pun tak mengerti apa yang membuatnya tersentak ketika membaca puisi tersebut.
Avel pun menyadari bahwa hari kian senja dan ia memutuskan untuk melanjutkan membaca di rumah saja. Kemudian ia bergegas mengumpulkan buku-buku perpajakan yang sedari tadi ia baca untuk dipinjam dan dipelajari lebih lanjut di rumah. Dan meminjam satu buku lagi, tentunya... buku puisi tersebut.
to be continued...
Suara dentuman langkah kaki memang selalu terdengar lebih keras di koridor ini, koridor yang merupakan satu-satunya akses menuju pepustakaan yang terletak diujung sebelah kanan dari koridor tersebut.
Saat tiba didepan pintu berwarnakan putih cerah dengan garis kusen jingga yang membuat kesan bahwa akan ada sesuatu yang cerah dibalik pintu tersebut. Ya, anggap saja maksudnya itu adalah pencerahan dalam ilmu tentunya. Inilah perpustakaan yang didalamnya sangat terlihat modern dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas teknologi tercanggih abad ini.
Avel segera masuk ke dalam dan menuju rak buku mengenai perpajakan karena kemarin dosen bidang perpajakan Ms. Antoniette menugaskan semua muridnya secara berpasangan untuk mencari sumber-sumber yang terkait dengan laporan yang akan mereka buat, tentunya berkaitan dengan pajak.
Dan pasangan Avel dalam tugas ini tentunya adalah Echa. Karena menurut Avel, dalam mengerjakan tugas jika tugas itu harus berpasangan maka cara paling nyaman adalah dengan orang yang sudah dikenal dekat terlebih sesama Indonesian. Dan Ms. Antoniette juga tidak mempermasalahkan dengan siapa muridnya berpasangan, yang terpenting adalah tugas yang ia berikan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Untuk kali ini, Avel harus mencari sumber untuk tugas tersebut sendiri di perpustakaan karena Echa yang sudah punya janji terlebih dahulu dengan ibunya setelah usai kelas terakhir tadi.
Tanpa terasa dia merasa lelah setelah 1 jam mempelajari beberapa buku tentang perpajakan dan mencari sumber yang relevan. Avel pun menggerakkan tangan kirinya spontan dan menyenggol sebuah buku bersampul merah dengan judul 'Puisi Ironis'. Avel merasa tertarik untuk membaca isi buku tersebut walaupun matanya letih tuk melihat rangkaian kata-kata lagi.
Saat Avel membolak-balikkan buku tersebut, ia tertarik pada satu halaman dengan puisi yang berjudul When Loves Come
Like a couple of birds
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come
-Mayangrani, 2012
Seketika ada desir halus yang menyentak hatinya. Avel pun hanya bisa terdiam merenungi makna puisi itu dan ia pun tak mengerti apa yang membuatnya tersentak ketika membaca puisi tersebut.
Avel pun menyadari bahwa hari kian senja dan ia memutuskan untuk melanjutkan membaca di rumah saja. Kemudian ia bergegas mengumpulkan buku-buku perpajakan yang sedari tadi ia baca untuk dipinjam dan dipelajari lebih lanjut di rumah. Dan meminjam satu buku lagi, tentunya... buku puisi tersebut.
to be continued...
Kamis, 09 Februari 2012
Online Shop
YES !!! I'VE FOUND A SITE FOR ONLINE SHOPPING.
check this out !
www.blibli.com
I want some items there like :
1. Lip Fridge Silver Brushed / Silver White Dial
Lip Fridge Silver Brushed/ Silver White Dial tampil elegan dengan perpaduan penampang jam analog berwarna putih dengan case stainless steel silver pada tali kulit coklat. Jam ini menggunakan mesin Ronda 775 mvt dan tahan dengan tekanan 5 atm.
For: Women
Price: Rp 2.244.000
2. Ciciero Alice Steel Blue
Ciciero Alice Steel Blue, satchel bag berbahan synthetic leather yang didesain dengan detail front pocket, aksen flap dengan gold-tone turn lock dan long messenger strap.
For: Women
Price: Rp 320.000
3. Silverleica Vanilla Cupcake with Ice Cream Scoop Necklace
Silverleica Vanilla Cupcake with Ice Cream Scoop Necklace, kalung dengan detail pendant berbentuk cupcakes dengan topping ice cream scoop dan Czech beads crystals.
For: Women
Price: Rp 135.000
There has many item for all gender. Example:
LIP Automythic Metal Black / Red
LIP Automythic Metal Black / Red, casual watch berdesain simple juga sporty dengan stainless steel strap model bracelet dan aksen warna merah yang hadir pada dial. Seri Automythic dari LIP hadir dalam sistem penunjuk waktu unik berupa jarum static yang menunjuk kombinasi angka jam, menit, dan detik yang ditampilkan oleh 3 turning dial yang berputar di bawahnya.
For: Men
Price: Rp 5.923.650
So, let's check it out ! And enjoy your shopping-time ;)
Selasa, 07 Februari 2012
SSC Part 6
Paris...
Pagi yang cerah namun tak sama seperti saat Echa berada di Jakarta. Ia mulai bersiap-siap untuk memulai aktivitas barunya. Ya, Kuliah.
Dengan memoles bibirnya dengan lipbalm serta ditimpali lipgloss tipis. Ia pun menarik tote bag navy bluenya dan segera bergegas menuju stasiun Metro yang terdekat dari rumahnya yaitu Metro de Paris Jalur 7.
Echa bertempat tinggal di kawasan La Courneuve dengan rumah putih minimalis dua tingkat yang berisikan 3 kamar tidur dengan tiap kamar mandi didalamnya, dapur yang tidak terpisah dengan dining room, garage, family room dengan perapian mini yang siap menghangatkan di kala winter tiba dan sebuah taman menawan di halaman belakang dengan gazebo yang terletak di sudut taman. Spot yang merupakan tempat favorit bagi Echa, terlebih taman ini nampak cantik di malam hari dengan hiasan lampu warna-warni dan bintang yang bertaburan di langit.
Saat berjalan santai sore kemarin, tidak sengaja Echa bertemu dengan Avel yang baru keluar dari gedung apartemennya. Ternyata apartemen Avel juga terletak di kawasan La Courneuve tepatnya 3 blok dari kawasan perumahan Echa. Mereka pun berbincang-bincang penuh keakraban melebihi saat mereka berbincang-bincang di pesawat minggu lalu. Sejak saat itu mereka sering berangkat dan pulang kuliah bersama karena tujuan mereka yang sama.
Tours Campus...
"Hey, Careesa" ucap wanita asli Parisian ini dengan melambaikan tangannya ke arah Echa.
Felice, wanita asli keturunan Perancis yang nampak tinggi langsing seperti model-model yang beberapa kali dilihat Echa pada acara Paris Fashion Week di channel FashionTV. Namun yang ini bukanlah model Parisian, Felice adalah orang yang dikenalnya saat melakukan registrasi ulang 3 hari yang lalu.
"Hey, Felice" jawab Echa sekenanya saja. Maklum Echa tidak terlalu banyak bicara dengan orang yang baru dikenalnya.
"Hey, qui est-il?" tanya Felice saat melihat pria yang berdiri tegap disamping Echa saat ini.
"Oh, son nom est Carvel. Il est l'eleve d'etudes collegiales en trop ici. Meme avec nous." jelas Echa pada Felice yang nampaknya tertarik dengan keindahan fisik Avel.
Ya, Avel memang tak seperti pria Indonesia kebanyakan. Tubuhnya tinggi atletis yang menurut Echa maklum karena Avel adalah pebasket semasa SMA-nya dan sudah gemar bermain basket sejak kecil yang diketahui Echa saat berbincang-bincang selama perjalanannya ke Paris. Dan ternyata Avel memiliki keturunan Perancis juga dari kakek dari ayahnya. Avel mengerti bahasa Perancis karena selama SMP dia sempat tinggal dengan kakeknya yang sehari-hari berkomunikasi dengan Bahasa Perancis saat orangtuanya dinas ke Rusia.
"Hey, ravi de vous recontrer." sapa Avel dengan memberikan senyumannya yang menawan yang selalu membuat kaum hawa meleleh.
Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang bersama karena ternyata mereka pun ditempatkan di kelas yang sama pada hari itu.
to be continued...
Pagi yang cerah namun tak sama seperti saat Echa berada di Jakarta. Ia mulai bersiap-siap untuk memulai aktivitas barunya. Ya, Kuliah.
Dengan memoles bibirnya dengan lipbalm serta ditimpali lipgloss tipis. Ia pun menarik tote bag navy bluenya dan segera bergegas menuju stasiun Metro yang terdekat dari rumahnya yaitu Metro de Paris Jalur 7.
Echa bertempat tinggal di kawasan La Courneuve dengan rumah putih minimalis dua tingkat yang berisikan 3 kamar tidur dengan tiap kamar mandi didalamnya, dapur yang tidak terpisah dengan dining room, garage, family room dengan perapian mini yang siap menghangatkan di kala winter tiba dan sebuah taman menawan di halaman belakang dengan gazebo yang terletak di sudut taman. Spot yang merupakan tempat favorit bagi Echa, terlebih taman ini nampak cantik di malam hari dengan hiasan lampu warna-warni dan bintang yang bertaburan di langit.
Saat berjalan santai sore kemarin, tidak sengaja Echa bertemu dengan Avel yang baru keluar dari gedung apartemennya. Ternyata apartemen Avel juga terletak di kawasan La Courneuve tepatnya 3 blok dari kawasan perumahan Echa. Mereka pun berbincang-bincang penuh keakraban melebihi saat mereka berbincang-bincang di pesawat minggu lalu. Sejak saat itu mereka sering berangkat dan pulang kuliah bersama karena tujuan mereka yang sama.
Tours Campus...
"Hey, Careesa" ucap wanita asli Parisian ini dengan melambaikan tangannya ke arah Echa.
Felice, wanita asli keturunan Perancis yang nampak tinggi langsing seperti model-model yang beberapa kali dilihat Echa pada acara Paris Fashion Week di channel FashionTV. Namun yang ini bukanlah model Parisian, Felice adalah orang yang dikenalnya saat melakukan registrasi ulang 3 hari yang lalu.
"Hey, Felice" jawab Echa sekenanya saja. Maklum Echa tidak terlalu banyak bicara dengan orang yang baru dikenalnya.
"Hey, qui est-il?" tanya Felice saat melihat pria yang berdiri tegap disamping Echa saat ini.
"Oh, son nom est Carvel. Il est l'eleve d'etudes collegiales en trop ici. Meme avec nous." jelas Echa pada Felice yang nampaknya tertarik dengan keindahan fisik Avel.
Ya, Avel memang tak seperti pria Indonesia kebanyakan. Tubuhnya tinggi atletis yang menurut Echa maklum karena Avel adalah pebasket semasa SMA-nya dan sudah gemar bermain basket sejak kecil yang diketahui Echa saat berbincang-bincang selama perjalanannya ke Paris. Dan ternyata Avel memiliki keturunan Perancis juga dari kakek dari ayahnya. Avel mengerti bahasa Perancis karena selama SMP dia sempat tinggal dengan kakeknya yang sehari-hari berkomunikasi dengan Bahasa Perancis saat orangtuanya dinas ke Rusia.
"Hey, ravi de vous recontrer." sapa Avel dengan memberikan senyumannya yang menawan yang selalu membuat kaum hawa meleleh.
Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang bersama karena ternyata mereka pun ditempatkan di kelas yang sama pada hari itu.
to be continued...
Rabu, 01 Februari 2012
SSC Part 5
Soekarno-Hatta International Indonesia Airport...
"Navvvyyyy !!! Gue bakal kangen nih sama lo. Ngobrol bareng, becanda bareng, curhat, shopping ya walaupun window shopping tapi... aaaaa Nav, jangan lupain gue yaaa !" pekik Echa sembari menghamburkan pelukan hangatnya pada sahabatnya itu.
"Iya, Cha. Gue juga bakal kangen sama lo nih. Lo sih kuliah jauh bener." jawab Navy dengan mulut manyunnya yang merajuk manja sambil tetap merangkul erat sahabatnya.
Tak terasa tiga tahun sudah Echa berada di Indonesia, ya tepatnya di Jakarta. Kota yang khas dengan gedung-gedung tinggi, mall, kemacetan dan polusi bahkan banjir di beberapa wilayah di kala musim hujan tiba.
Echa yang telah berhasil menamatkan masa SMAnya di Mulia Pertiwi International School akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke bangku kuliah di Ecole Superieure de Commerce Et Management atau yang lebih dikenal dengan Escem School of Business and Management yang terletak di Tours, France. Ia memilih melanjutkan studi kesana selain karena ia kangen Bundanya yang tinggal di Paris, Escem adalah tempat kuliah yang sudah dia idamkan dari sejak ia tamat SMP sehingga Echa seperti dipanggil kembali ke negeri Menara Eiffel itu ketika application form-nya ke Escem diterima.
Sedangkan Navy berencana melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Setelah secara resmi ia dinyatakan diterima di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, ia pun minggu depan akan mulai hijrah ke kota batik dan bakpia, Jogja untuk mengurus segala keperluannya selama menuntut ilmu disana nanti.
Dari kejauhan Echa melihat sesosok pria tegap yang terasa tak asing lagi dilihat oleh matanya. Ia pun mulai mengendurkan dekapannya pada sahabatnya dan memerhatikan sosok tersebut yang berjalan memasuki pintu keberangkatan terminal 2D yang merupakan terminal yang akan ia masuki pula. Hanya dalam hati Echa pun bergumam. Avel.
Navy yang heran melihat temannya melongo seperti itu langsung refleks menyenggol kecil lengan Echa dihadapannya. Sontak Echa pun tersadar dari longoannya dan mengalihkan pandangannya ke Navy yang menatapnya dengan penuh tanya yang seakan wajahnya saja sudah menyiratkan kalimat "Kenapa lo, Cha?" walaupun tak terlisankan oleh Navy.
"Hemm tadi gue kayak lihat mantan lo. Avel."Ngapain ya dia disini? Kok bisa masuk terminal yang sama? Jangan sampai satu gate apalagi satu flight nih bisa grogi banget. ucap Echa yang selebihnya hanya diteruskan didalam hatinya saja.
"Oh, iya gue denger-denger dari teman sekolahnya dulu katanya dia mau studi di luar tapi gatau deh dimana, Cha. Gue udah ga kontakan lagi ya kan lo tau lah sejak kejadian di mall waktu itu dan kenyataan sesungguhnya." terang Navy dengan diakhiri napas yang berat seakan-akan ingin menghilangkan beban yang teramat dalam.
Kejadian 1 bulan lalu saat Navy sedang jalan-jalan di mall dengan Echa untuk mencari kado ulangtahun mamanya Navy yang akan berulangtahun lusanya. Tanpa sengaja Navy melihat Avel dengan seorang gadis ya boleh diakui sih cantik yang mengapit lengan Avel manja. Navy yang tak tahan melihat itu langsung mengajak Echa segera pergi ke tempat lain dan malamnya Navy memutuskan Avel dengan semua tuduhan tersebut. Yang ternyata baru-baru ini ia ketahui bahwa gadis itu adalah sepupu Avel dari Paris yang sedang berlibur di Jakarta dan saat itu menemani Avel untuk membantu memilihkan kado untuk ulangtahun mamanya Navy.
"Hemm yaa.. sabar ya Nav."Lo terlalu gegabah Nav menyia-nyiakan pria seperti Avel. ucap Echa yang seperti tadi setengahnya hanya terucap didalam hati. Mungkin Echa mulai jago untuk berbicara bahasa hati.
Terdengar suara panggilan boarding dari speaker di tiap sudut bandara yang mengharuskan Echa segera bergegas untuk menuju gate waiting room untuk boarding dan sembari memasuki pintu terminal ia menoleh ke Navy dan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.
Saat memasuki pintu pesawat, Echa merasa jantungnya berdegup dan bergetar tak beraturan. Ah kenapa nih? gumamnya dalam hati. Kemudian Echa meneruskan langkahnya dan menatap deretan angka dan huruf untuk mencari seat-nya. Dan tibalah dia dideretan seat-nya dan nampak sosok pria tegap yang sama, sosok pria yang ia lihat tadi saat masih didepan pintu teminal. Avel.
Pantesan aja gue udah ketar-ketir pas masuk pesawat. Huh! gumam Echa kembali dalam hati yang nampaknya akan kian sering ia lakukan. Ia pun melanjutkan langkahnya menduduki seat-nya yang persis bersebelahan dengan seat milik Avel.
"Hai" sapa Avel sembari melepaskan headphone putih yang sedari tadi melekat di telinganya dan dengan dihiasi senyumannya yang khas yang seperti biasa bisa membuat para wanita melting tak terkecuali dengan Echa pastinya.
"Eehh, Hai." jawab Echa gugup tapi tetap mengumbarkan senyuman termanisnya demi membalas senyuman Avel tadi.
"Echa kan? ke Paris juga? Lanjut kuliah disana? Dimana?" tanya Avel yag kata orang-orang terlihat pendiam namun bagi Echa kali ini seperti diinterogasi dengan pertanyaan panjang seperti gerbong kereta api tersebut.
"Hmm, iya aku Echa. Avel kan mantannya Navy? Ups, sorry." kata Echa yang tidak sengaja keceplosan mengucapkan kalimat pertanyaan terakhirnya tadi.
"Hmm iya gpp kok. Oh iya td pertanyaan yang lainnya belom dijawab loh. Hehe" ucap Avel dengan cengirannya yang belum pernah selepas ini dan baru pertama kali Echa melihatnya.
"Oh iya, aku ke Paris. Mau ngunjungin mamaku dulu abis itu mau ke Tours buat ngurus kuliahku disana. Aku kuliah di Escem. Kamu ke Paris dalam rangka apa?" jawab Echa yang diiringi dengan pertanyaan selanjutnya demi terjalinnya komunikasi diantara mereka selama perjalanan. Lumayan ada temen ngobrol, Avel pula.
"Waaahh sama dong aku juga lanjut studi di Escem. Oh mamamu tinggal di Paris toh enak ya ga perlu tinggal di flat sendirian deh." kata Avel nampak begitu cerah entah kenapa.
Percakapan diantara mereka terus berlanjut nampak begitu akrab seperti sudah lama terjalin keakraban seperti ini. Diselilingi canda tawa dan senyuman yang selalu merekah dari keduanya membuat mereka semakin terlihat nyaman dan terasa keakraban. Dan tak lupa Echa-Avel bertukar kontak, agar saat di Paris mereka tetap keep in touch. Maklum tak banyak mahasiswa Indonesia juga disana jadi menjalin keakraban sesama Indonesian sangat penting dilakukan.
"Navvvyyyy !!! Gue bakal kangen nih sama lo. Ngobrol bareng, becanda bareng, curhat, shopping ya walaupun window shopping tapi... aaaaa Nav, jangan lupain gue yaaa !" pekik Echa sembari menghamburkan pelukan hangatnya pada sahabatnya itu.
"Iya, Cha. Gue juga bakal kangen sama lo nih. Lo sih kuliah jauh bener." jawab Navy dengan mulut manyunnya yang merajuk manja sambil tetap merangkul erat sahabatnya.
Tak terasa tiga tahun sudah Echa berada di Indonesia, ya tepatnya di Jakarta. Kota yang khas dengan gedung-gedung tinggi, mall, kemacetan dan polusi bahkan banjir di beberapa wilayah di kala musim hujan tiba.
Echa yang telah berhasil menamatkan masa SMAnya di Mulia Pertiwi International School akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke bangku kuliah di Ecole Superieure de Commerce Et Management atau yang lebih dikenal dengan Escem School of Business and Management yang terletak di Tours, France. Ia memilih melanjutkan studi kesana selain karena ia kangen Bundanya yang tinggal di Paris, Escem adalah tempat kuliah yang sudah dia idamkan dari sejak ia tamat SMP sehingga Echa seperti dipanggil kembali ke negeri Menara Eiffel itu ketika application form-nya ke Escem diterima.
Sedangkan Navy berencana melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Setelah secara resmi ia dinyatakan diterima di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, ia pun minggu depan akan mulai hijrah ke kota batik dan bakpia, Jogja untuk mengurus segala keperluannya selama menuntut ilmu disana nanti.
Dari kejauhan Echa melihat sesosok pria tegap yang terasa tak asing lagi dilihat oleh matanya. Ia pun mulai mengendurkan dekapannya pada sahabatnya dan memerhatikan sosok tersebut yang berjalan memasuki pintu keberangkatan terminal 2D yang merupakan terminal yang akan ia masuki pula. Hanya dalam hati Echa pun bergumam. Avel.
Navy yang heran melihat temannya melongo seperti itu langsung refleks menyenggol kecil lengan Echa dihadapannya. Sontak Echa pun tersadar dari longoannya dan mengalihkan pandangannya ke Navy yang menatapnya dengan penuh tanya yang seakan wajahnya saja sudah menyiratkan kalimat "Kenapa lo, Cha?" walaupun tak terlisankan oleh Navy.
"Hemm tadi gue kayak lihat mantan lo. Avel."Ngapain ya dia disini? Kok bisa masuk terminal yang sama? Jangan sampai satu gate apalagi satu flight nih bisa grogi banget. ucap Echa yang selebihnya hanya diteruskan didalam hatinya saja.
"Oh, iya gue denger-denger dari teman sekolahnya dulu katanya dia mau studi di luar tapi gatau deh dimana, Cha. Gue udah ga kontakan lagi ya kan lo tau lah sejak kejadian di mall waktu itu dan kenyataan sesungguhnya." terang Navy dengan diakhiri napas yang berat seakan-akan ingin menghilangkan beban yang teramat dalam.
Kejadian 1 bulan lalu saat Navy sedang jalan-jalan di mall dengan Echa untuk mencari kado ulangtahun mamanya Navy yang akan berulangtahun lusanya. Tanpa sengaja Navy melihat Avel dengan seorang gadis ya boleh diakui sih cantik yang mengapit lengan Avel manja. Navy yang tak tahan melihat itu langsung mengajak Echa segera pergi ke tempat lain dan malamnya Navy memutuskan Avel dengan semua tuduhan tersebut. Yang ternyata baru-baru ini ia ketahui bahwa gadis itu adalah sepupu Avel dari Paris yang sedang berlibur di Jakarta dan saat itu menemani Avel untuk membantu memilihkan kado untuk ulangtahun mamanya Navy.
"Hemm yaa.. sabar ya Nav."Lo terlalu gegabah Nav menyia-nyiakan pria seperti Avel. ucap Echa yang seperti tadi setengahnya hanya terucap didalam hati. Mungkin Echa mulai jago untuk berbicara bahasa hati.
Terdengar suara panggilan boarding dari speaker di tiap sudut bandara yang mengharuskan Echa segera bergegas untuk menuju gate waiting room untuk boarding dan sembari memasuki pintu terminal ia menoleh ke Navy dan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.
Saat memasuki pintu pesawat, Echa merasa jantungnya berdegup dan bergetar tak beraturan. Ah kenapa nih? gumamnya dalam hati. Kemudian Echa meneruskan langkahnya dan menatap deretan angka dan huruf untuk mencari seat-nya. Dan tibalah dia dideretan seat-nya dan nampak sosok pria tegap yang sama, sosok pria yang ia lihat tadi saat masih didepan pintu teminal. Avel.
Pantesan aja gue udah ketar-ketir pas masuk pesawat. Huh! gumam Echa kembali dalam hati yang nampaknya akan kian sering ia lakukan. Ia pun melanjutkan langkahnya menduduki seat-nya yang persis bersebelahan dengan seat milik Avel.
"Hai" sapa Avel sembari melepaskan headphone putih yang sedari tadi melekat di telinganya dan dengan dihiasi senyumannya yang khas yang seperti biasa bisa membuat para wanita melting tak terkecuali dengan Echa pastinya.
"Eehh, Hai." jawab Echa gugup tapi tetap mengumbarkan senyuman termanisnya demi membalas senyuman Avel tadi.
"Echa kan? ke Paris juga? Lanjut kuliah disana? Dimana?" tanya Avel yag kata orang-orang terlihat pendiam namun bagi Echa kali ini seperti diinterogasi dengan pertanyaan panjang seperti gerbong kereta api tersebut.
"Hmm, iya aku Echa. Avel kan mantannya Navy? Ups, sorry." kata Echa yang tidak sengaja keceplosan mengucapkan kalimat pertanyaan terakhirnya tadi.
"Hmm iya gpp kok. Oh iya td pertanyaan yang lainnya belom dijawab loh. Hehe" ucap Avel dengan cengirannya yang belum pernah selepas ini dan baru pertama kali Echa melihatnya.
"Oh iya, aku ke Paris. Mau ngunjungin mamaku dulu abis itu mau ke Tours buat ngurus kuliahku disana. Aku kuliah di Escem. Kamu ke Paris dalam rangka apa?" jawab Echa yang diiringi dengan pertanyaan selanjutnya demi terjalinnya komunikasi diantara mereka selama perjalanan. Lumayan ada temen ngobrol, Avel pula.
"Waaahh sama dong aku juga lanjut studi di Escem. Oh mamamu tinggal di Paris toh enak ya ga perlu tinggal di flat sendirian deh." kata Avel nampak begitu cerah entah kenapa.
Percakapan diantara mereka terus berlanjut nampak begitu akrab seperti sudah lama terjalin keakraban seperti ini. Diselilingi canda tawa dan senyuman yang selalu merekah dari keduanya membuat mereka semakin terlihat nyaman dan terasa keakraban. Dan tak lupa Echa-Avel bertukar kontak, agar saat di Paris mereka tetap keep in touch. Maklum tak banyak mahasiswa Indonesia juga disana jadi menjalin keakraban sesama Indonesian sangat penting dilakukan.
Langganan:
Postingan (Atom)




