Sabtu, 22 Desember 2012

Kembali


“Bang, air mineral sebotol yaa !” ucap gadis keperawakan Chinese dengan mata sipit dan kulit putihnya yang khas Asia ini sambil mengelap peluh keringatnya dengan handuk kecil pink bunga-bunga yang diujung kiri sisi bawahnya terdapat inisial DAS, Diva Anindya Soedoro, inisial sang empunya handuk tersebut.

Panasnya kota Jogja sore ini tak begitu menyengat kulit Diva, cuaca mendung dan tebalnya awan menghalangi radiasi sinar matahari secara langsung. Tak hanya Diva yang berpeluh keringat sore itu, tapi juga beberapa orang disekitarnya yang juga sedang berlari sore sama halnya dengannya. Diva sangat senang mengisi waktu kosongnya dengan berolahraga terutama berlari sore mengitari Grha Sabha Pramana, tempat yang berada di kawasan kampusnya yang setiap sore selalu ramai dikunjungi orang-orang yang juga ingin berlari sore ataupun hanya sekadar menikmati udara sore.

Setelah satu jam berlari sore, Diva merasa perutnya keroncongan dan teringat bahwa tadi siang ia belum sempat makan makanan berat dan hanya makan dua buah popcakes strawberry yang diberikan Raras, temannya yang senang sekali membuat uji coba berbagai jenis kue dan menjadikan teman-temannya khususnya temannya yang merupakan anak kosan seperti Diva untuk mencicipi kue-kue buatannya.

Diva segera menghentikan olahraganya sore itu dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di sisi timur Grha Sabha Pramana. Ia tak langsung bergegas pergi dari tempat itu, ia hanya menyalakan mesin mobilnya dan memutarkan playlist di I-Podnya yang mengingatkannya pada kenangan itu, kenangan dimana Diva tak sendiri seperti saat ini. Diva kemudian membuka dashboard mobilnya dan meraih botol yang berisikan secarik kertas berwarna merah muda. Lalu, Diva pun membaca kertas itu dengan pandangan menerawang. Andai saja aku punya cukup keberanian waktu itu. Tanpa sadar Diva menitikkan airmata, tanda rindunya yang teramat dalam dan meletakkan kembali botol itu ke dalam dashboard, kemudian segera melesat menuju kosannya.

Dua tahun sudah Diva tak pernah bertemu Evan, bahkan untuk mengirim pesan atau berteleponan juga tidak. Itu semua terjadi sejak ponsel Diva hilang dua tahun yang lalu, ketika ia sedang berdesakan di Pasar Beringharjo. Dan saat ini, orang-orang yang mempunyai nomornya hanya orang-orang terdekatnya atau juga yang bertanya kepadanya melalui email ataupun situs sosial lainnya.

Ketika Diva sedang sibuk berkutat di depan layar laptopnya, ponselnya pun bordering dan bergetar sekali yang menandakan adanya pesan baru masuk. Diva tak pernah menunda untuk membaca sebuah pesan baru yang masuk ke ponselnya.

“Hai, Diva. Apa kabar nih?” -08xxxxxx4100. Sebuah pesan singkat yang cukup membuat Diva heran karena nomor yang tertera di kolom pengirim pesannya itu tidak dikenalinya. Tapi Diva bukan tipe orang yang suka meladeni orang-orang yang tak dikenalnya, apalagi orang-orang iseng yang biasa mengirim pesan kepadanya hanya untuk sekadar kenal atau ingin dekat dengan Diva. Maka dari itu Diva hanya mengacuhkan pesan singkat tersebut dan melanjutkan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.

Namun selang 15 menit, ponselnya kembali bergetar dan Diva pun membaca kembali pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya. Disana tertera nomor ponsel yang sama, nomor ponsel yang tidak tercantum di kontak ponselnya. Dan seperti sebelumnya, Diva hanya mengacuhkan saja pesan singkat itu.

Dan 10 menit kemudian, ponsel Diva pun bergetar kembali dan Diva dengan ogah-ogahan membuka kembali kotak pesan di ponselnya. Dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh orang yang sama seperti sebelumnya.

“Maaf lho yaa, aku ga maksud ganggu. Tapi ini apa benar nomor Diva Anindya Soedoro? Pls bls.” -08xxxxxx4100

Diva memerhatikan kembali pesan singkat itu dan berpikir sepertinya sang pengirim pesan itu tidak bermaksud sama seperti orang-orang iseng yang selama ini beredar di kehidupan Diva. Kemudian akhirnya Diva pun membalas pesan singkat tersebut walau hanya dengan satu kata.

“Ya.” Jawaban yang sangat singkat dari Diva tanpa basa-basi yang terlontar sedikit pun didalam pesan itu.
Namun Diva tak menyangka bahwa 5 menit kemudian ponselnya pun berdering dan bergetar panjang yang menandakan bahwa ada panggilan masuk disana. Diva pun melihat nomor ponsel yang tertera di layar ponselnya dan gotcha! Nomor ponsel yang sama tertera disana. Diva pun mengangkat panggilan masuk tersebut dengan rasa sedikit penasaran di benaknya.

“Halo.” Ucap Diva

“Halo, Div. Apa kabar?” ucap seseorang diseberang sana dengan nada suara yang cukup berat.

Diva berpikir sejenak setelah mendengarkan nada suara peneleponnya. Baginya itu bukanlah suara yang asing didengar telinganya tapi seperti sudah lama tak didengarnya. Jangan-jangan…. Pikirnya membatin.
“Baik. Siapa ya?” jawab Diva sekenanya saja dan langsung meluncurkan pertanyaan yang bermekaran di kepalanya sekaligus untuk menjawab segala perkiraan dan menghapus rasa penasarannya.

“Evan, Div. Lama ya ga kontakan sama kamu. Aku coba nghubungin nomormu eh.. ga nyambung-nyambung ternyata udah ga aktif ya nomor yang lama. Baru tau ini nomormu yang baru dari Dwi pas reunian kemarin. Kangen juga sama lo!” jawab Evan panjang lebar menjawab semua rasa penasaran Diva.

Diva hanya terdiam mendengarkan kenyataan bahwa orang diseberang sana adalah orang yang diharapkannya, orang yang selalu hadir dalam ingatannya, dan orang yang sama yang telah membuatnya menunggu selama dua tahun ini.

“Besok gue mau ke Jogja lho, Div. Mau refreshing gitu sekalian mau ketemu lo. Udah lama kan ga ketemu. Nanti main yaaa, see you tomorrow !” ucap Evan menutup percakapannya pada Diva.

“Ha? Oh ya. See you too.” Ucap Diva sedikit gelagapan terlebih ketika Evan menyatakan kerinduannya pada Diva yang membuat debaran jantungnya pun tak menentu. Rasa senangnya malam ini sudah tak tertahan memuncak. Akhirnya kesempatan itu masih ada. Sesuatu yang telah lama hilang pasti akan kembali jika kembalilah takdirnya. Dan Diva pun yakin akan hal itu.

Selasa, 18 Desember 2012

SSC Part 9


Setelah kejadian dinner minggu lalu, Echa sempat uring-uringan dengan perasaannya. Mungkinkah ia merasakan cinta seperti yang pernah ia rasakan dulu saat di bangku SMP. Ia membuka kembali buku hariannya dulu ketika SMP. Buku yang bersampulkan warna pink yang identik dengan warna girly dan bergambarkan teddy bear besar berwarna cokelat yang duduk memegang bantalan berbentuk hati warna merah dengan tulisan I Love You warna hitam.

Saat membuka halaman pertama terdapat identitas dirinya tertulis disana. Dulu ia bermaksud dengan menuliskan identitas dirinya, apabila buku hariannya hilang dapat dikembalikan kepadanya oleh orang yang menemukan. Padahal ia sendiri tidak mau kalau sampai ada orang yang tahu akan keberadaan buku hariannya itu termasuk orangtuanya karena bagi Echa itu adalah privasinya dan anak juga memiliki privasinya terhadap orangtua.

Kemudian ia mulai membaca halaman per halaman yang membuat ia serius berpikir mengingat-ingat, senyum-senyum sendiri bahkan terkadang tertawa kecil jika mengingat kejadiannya di masa lalu itu.
Didalam buku harian itu pulalah tertulis semua awal pertemuannya dengan Nick, cowok yang menjadi idola sekolahnya sewaktu SMP yang ternyata adalah teman sekelasnya bahkan teman sebangkunya karena dulu tempat duduk diatur oleh wali kelas mereka Mr. Frank.

Sejak saat itulah Echa menjadi dekat dan akrab dengan Nick seperti lem dan perangko dimana ada Nick disanalah pasti ada Echa juga dan begitu sebaliknya. Nick memang senang bermusik sejak dulu dan alat musik favoritnya adalah piano. Darah musisi memang mengalir dalam darah Nick karena ayahnya yang juga seorang musisi jazz legendaris khususnya pada alat musik saxophone. Mr. Alexander Fitzgerald ayah Nick, memang selalu giat mewajibkan anaknya untuk dapat menguasai minimal satu alat musik dan Nick memilih piano karena menurut Nick, piano memiliki nada yang sangat indah dan ia pun giat berlatih alat musik favoritnya itu.

Dulu sewaktu SMP, ada salah seorang gadis yang sangat tergila-gila akan Nick. Setiap harinya dia selalu menyusupkan sebatang coklat putih dan kartu ucapan yang berisikan kata-kata romantis yang setiap harinya selalu berganti-ganti kata-katanya. Dan setiap hari pulalah Nick selalu memberikan coklat putih yang ia dapat dari penggemarnya kepada Echa. Tentunya dengan senang hati Echa selalu menerima coklat tersebut karena Echa memang hanya menyukai coklat putih dibandingkan coklat lainnya.

Di salah satu halaman buku harian itu juga terdapat foto Echa dan Nick saat merayakan halloween yang ia tempelkan sehari setelahnya. Dalam foto itu, Echa dan Nick berpakaian ala vampire dan berdandan seseram mungkin dengan memegang sebuah piala yang mereka menangkan sebagai The Best Dresscode Couple. Mereka saat itu hanya tertawa-tawa saja karena orang-orang menyebut mereka pasangan yang serasi dan mereka menganggap anggapan orang-orang sebagai persetujuan bahwa mereka adalah pasangan sahabat yang serasi bukan kekasih walaupun Echa agak merasakan perasaan yang lebih dari itu.

Echa membolak-balikkan lagi halaman buku harian itu lebih cepat dan sampai pada halaman terakhir saat-saat mereka mengadakan farewell. Disana Echa mengenakan tube dress berwarnakan hitam selutut dengan high heels merah 7 cm, clutch merah cantik, aksesoris kalung, gelang, dan cincin serta sentuhan make up yang sedikit glamour.

Sedangkan Nick dengan kemeja merah maroonnya ditutupi dengan setelan jas dan dasi yang senada dengan warna jasnya. Riasan pada Nick hanya nampak pada rambutnya yang dicat lebih menjadi dark brown karena warna rambut aslinya yang blonde sudah membuatnya bosan selama 3 tahun ini.
Echa dan Nick datang bersama ke acara farewell party tersebut. Makanya mamanya Echa sudah sangat kenal dengan Nick dan keluarganya terlebih mamanya Nick adalah rekan kerja mamanya.
Di tengah-tengah keseriusan Echa saat membaca buku hariannya dan mendalami kisah-kisahnya dulu, ia tersentak mendengar ringtone ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan baru didalamnya.

            “Echa.”
“Oui, quoi de neuf?” (“Ya, Ada apa?”)
“Je veux vous recontrer a nouveau. Etes-vous occupe cette semaine?” ("Saya ingin bertemu Anda lagi. Apakah Anda sibuk minggu ini?”)
“Pas. Nous allons nous recontrer !” (“Tidak. Ayo ketemu !”)
            “D’accord, samedi a 4 pm. Est-ce acceptable?” (“Oke, Sabtu pukul 4 sore. Setuju?”)
“Pas de probleme. Ou?” (“Tidak masalah. Dimana?”)
            “La Rotonde at Montparnasse Quarter.”
                        “Puis-je aller avec mon ami la-bas?” (“Boleh aku ajak teman?”)
            “Bien entendu. Mon plaisir.” (“Tentu saja dengan senang hati.”)
“Ok, vous voir il ya.” (“Oke, sampai bertemu ya.”)

Berakhirlah percakapan pesan singkat antara Nick dan Echa saat itu dan segeralah Echa menghubungi Avel untuk menemaninya ke kafe tersebut. Ya, teman yang dimaksud Echa pada percakapannya dengan Nick tadi adalah Avel karena Echa dan Avel telah memiliki janji untuk menyelesaikan tugas mereka sehabis kuliah di rumah Echa. Tapi mampir dulu di kafe sebentar tidak apalah bagi Echa untuk relaksasi sejenak sebelum melanjutkan mengerjakan tugas kembali.

            “Hey, Avel.”
                        “Kenapa, Cha?”
“Besok abis pulang kuliah sebelum ngerjain tugas di rumahku mampir dulu gimana?”
            “Mau ngapain? Kemana?”
“Ada janji sama teman SMPku dulu di La Rotonde. Temenin yaaaahhh !”
            “Hmm.. ya bolehlah.”
“Oke, Avel. Siplah kalau gitu.”

Echa pun mengakhiri percakapannya dengan Avel dengan senyum sumringah karena semua sesuai rencananya. Maka Echa pun membereskan kembali buku harian yang tadi ia baca dan menyimpannya kembali di tempat khusus tersembunyi karena Echa tidak pernah mau privasinya terusik.

Minggu, 16 Desember 2012

Kehidupan

Gantungkan sejuta asa setinggi langit
Gapai apa saja yang ingin kamu gapai
Raih semua angan-angan yang terbentang
Hadapi semua rintangan yang menghadang
Motivasi diri untuk bangkit
Bangun dari keterpurukan
Berdiri menjadi pribadi yang lebih baik lagi
Selalu berusaha menjadi yang terbaik dari yang paling baik
Hapus airmata yang menetes pilu
Sembuhkan semua luka yang tergoreskan
Yakinkan diri pasti bisa
Karena inilah hidup
Kehidupan itu anugerah
Hidup hanya satu kali
Nikmati dan rasakan semua
Sebelum semuanya akan hilang dalam sekejap

Rabu, 12 Desember 2012

Kebersamaan

Langit, hamparan birumu bak alunan sendu
Melukiskan wajah sejuta kenangan
Terhampar nan luas diatas karpet hijau
Karpet alam yang sungguh indah
Menikmati keindahan ini, sungguh membuatku terpana
Walau deru angin menusuki kulit
Dinginnya, tapi terhangatkan akan kebersamaan
Kebersamaan, rasa yang penuh makna
Tak akan tergantikan oleh apapun
Tak akan pernah kita bisa tuk hidup sendiri
Sendiri dalam sunyi sepi ku benci
Hanya berteman keheningan
Tak terbayangkan
Sungguh, betapa indahnya kebersamaan ini


NB: At Dieng Plateau, Summit & LT 2 IMAGAMA FEB UGM 1-2 Desember 2012

Rabu, 28 November 2012

Sempurna Tak Menyatu

"The sun goes down, the stars come out.
My universe will never be the same."
Kamu akan selalu menjadi kamu
Dan kamu mungkin akan selalu begitu
Aku akan selalu tetap menjadi aku
Dan aku mungkin akan selalu begini
Sendiri. Dalam sepi sunyi ku sendiri
Sayup terdengar dan terlintas rekaman memori
Memori indah terbingkai di ingatan
Namun kini, kamu disana dan aku disini
Kamu dan aku terpisah ruang, jarak, dan waktu
Kamu dan aku ibarat minyak dan air
Yang dimana takdirnya tak akan pernah bisa menyatu
Kamu dan aku bagaikan terhalang tembok China
Yang tinggi dan panjangnya tak tergapai
Disaat kamu siang, aku cukup menjadi malam
Walau tak akan pernah bisa bertemu dan menyatu
Tapi aku dan kamu akan tetap bisa melengkapi
Membuat dunia indah dan sempurna
Karena hari akan sempurna,
Jika siang dan malam itu ada
Walaupun itu menegaskan bahwa
Aku dan kamu tidak akan pernah menjadi kita

Minggu, 11 November 2012

Aku ingin

Aku ingin menjadi cahaya di tengah kegelapan.
Aku ingin menjadi bintang di sunyinya malam.
Aku ingin menjadi mentari di pagi hari.
Aku ingin selalu bersinar untuk mereka,
Mereka, orang-orang yang ku sayangi.
Aku ingin menjadi udara
Terbang bebas, lepas, dan tanpa beban.
Memberikan suasana yang dapat dirasakan oleh setiap manusia.
Aku tahu, aku ini hanya manusia biasa.
Tetapi aku hanya ingin,
Ingin mereka menyadari dan mengerti hadirku.
Untuk merekalah, aku ada.

Selasa, 19 Juni 2012

Liburan, Ayo ke Pantai Ngobaran !

Daerah Gunungkidul, Wonosari, Jogjakarta menyimpan berbagai objek wisata pantai yang indah nan mempesona salah satunya adalah Pantai Ngobaran. Pantai ini dapat ditempuh sekitar satu setengah jam (sekitar 63 km) dari kota Jogjakarta. Nah, saat tiba di Pantai Ngobaran, Anda akan disambut dengan sebuah pura yang memberikan kesan etnik sekaligus mistis. Ini dia puranya !

taken by Widihasmoro
Di pura itu juga terdapat beberapa patung yang gagah sekaligus agak menyeramkan. Patung-patung tersebut menyimbolkan bahwa budaya Hindu sempat singgah di kawasan tersebut. Ini dia salah satu foto patungnya !

taken by Widihasmoro
Pantai Ngobaran di sisi selatan lebih terlihat agak curam dan memiliki bebatuan yang besar. Untuk mencapai pantainya, Anda harus menuruni beberapa anak tangga dan melalui jalan setapak yang terdapat setelah Anda melewati dalam pura.

Pantai Ngobaran sisi selatan
taken by Widihasmoro
Pantai Ngobaran juga memiliki bagian sisi lainnya yaitu sisi barat yang tidak terlalu banyak bebatuan besar. Untuk mencapai ke Pantai Ngobaran sisi barat ini, Anda tidak perlu memasuki pura tapi cukup melewati jalan setapak bebatuan kecil yang berada di sisi barat sebelum pura. Pantai Ngobaran sisi barat ini terhampar indah dengan pasir putih ditepiannya.

Pantai Ngobaran sisi barat dilihat dari atas
taken by Widihasmoro
Pantai Ngobaran ini cukup indah bagi siapapun yang butuh relaksasi pantai. Selain itu juga bisa menjadi sarana objek foto bagi para fotografer, orang-orang untuk foto pre-wedding, ataupun sebagai photoshoot pribadi dan lainnya.

Photoshoot salah satu wisatawan
taken by Widihasmoro
taken by Widihasmoro
Jadi, bagi Anda yang bingung mengisi liburan akan kemana, mungkin Pantai Ngobaran bisa menjadi salah satu opsinya terutama bagi Anda yang menyukai pantai.




Tulisan ini dibuat untuk mengikuti #TravelAsyik dari http://anakasyik.com berhadiah jalan-jalan bareng @TrinityTraveler. Tulisan adalah karya saya sendiri dan bukan merupakan jiplakan.

Kamis, 14 Juni 2012

Selalu Kamu


Aku terpaku, terduduk diam hening membisu
Menatap langit-langit, menerawang terbang tinggi
Menembus batasan mega dunia
Ketika berjumpa sang dewa, sungguh indahnya
Putaran roda waktu, bagai tak terasakan
Seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman
Namun terkadang bagai duri di indahnya mawar
Sang dewa, mengapa kau begitu indah
Mengapa kau begitu tinggi
Semakin ku mendekat, kau seolah terbang menjauh
Aku tak ingin kehilangan indahnya hadirmu
Aku kan selalu disini, agar kau tetap ada
Agar kau tetap tampak olehku dan tak menjauh
Walau jarak membentang diantara kita
Kamu, akan tetap selalu kamu

Rabu, 22 Februari 2012

Sinopsis "Hujan, Payung, dan Dia"

Percayakah kamu akan cinta pada pandangan pertama?
Tak banyak orang yang percaya akan kekuatan cinta pada pandangan pertama. Tapi tak banyak juga orang yang menyangkal bahwa kekuatan cinta pada pandangan pertama itu ada.
Perasaan hati yang bagai tersengat aliran listrik saat pertama kali berjumpa dengan seseorang yang bahkan baru kita kenal.
Detak jantung yang berdegup tak beraturan seperti ingin melompat keluar dari sarangnya seakan tak terkendali.
Itulah yang dirasakan Ranny saat pertama kali bertemu dengannya. Lelaki yang mampu membuat Ranny merasakan kembali getaran cinta yang dulu pernah sirna. Ia mengerti bahwa ini tak benar dan tak semestinya. Namun ia tak begitu mengerti apa yang seharusnya dia lakukan. Ranny hanya mampu bertahan, berusaha, dan berkorban.
Hal apakah yang akan dihadapi Ranny? Mampukah ia?
Akankah cinta pada pandangan pertama itu menjadi cinta sejati?
Atau hanyalah kan menjadi cinta semu sesaat?

When Loves Come

Like a couple of birds
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come

Kamis, 14 Februari 2012
20.27

Jumat, 17 Februari 2012

For You

Your smile, brightening my day
Your eyes, coloring my dream
May you'll be mine?
Never stop for hoping it

I've been trying to the another guy
But it's not same like you
You're different

I miss you
I really miss you so bad

Talking, joking, laughing
Happiness or sadness
It's all about you
I like it

I really need you
I really miss you
I really love you
I do

14 Desember 2011
22.55
For you #batman & #rainhaters

Kamis, 16 Februari 2012

SSC Part 8

Maladroit

Echa nampak bersemangat memilih-milih baju yang ada di salah satu shop yang berada di Les Quatre Shopping Mall yang terletak di suatu daerah bernamakan Parvis de La Defense. Ini adalah salah satu shopping center tersibuk di Paris dengan hypermarket dan beberapa shops didalamnya.


Echa hari ini memang sudah janji dengan mamanya untuk menemani berbelanja setelah ia usai kuliah. Ya, Echa pastinya menepati janji sama mama tersayangnya dong. Namun kali ini Echa terlihat sendirian memilih-milih baju di toko tersebut karena mamanya yang memutuskan untuk berbelanja berpencar untuk menghemat waktu. Agar waktu mereka masih tersisa banyak untuk bersiap-siap sebelum melakukan dinner malam ini.

Ya, malam ini Echa dan mamanya berencana untuk mengadakan dinner berdua saja. Mereka menyebutnya mom-daughter time! -it's so funny heard, tapi hal itulah yang biasa mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas family-timenya.

"Echa." sapa seorang pria yang terlihat seumuran dengannya, tinggi, tegap, putih layaknya Parisian lainnya, dan charming seperti dulu ya, seperti dulu anak laki-laki idola di sekolahnya saat SMP di Paris.


"Nick? Nicholas Fitzgerald? C'est vous?" jawab Echa dengan pertanyaan balik seakan tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Nick, first love-nya saat ia duduk di bangku SMP.

"Oui, c'est moi. Quand pensez-vous de revenir ici?" jawab Nick meyakinkan Echa bahwa ya inilah dia disini tepat didepan Echa.

"Depuis qui j'ai commence mon college a Tours." jawab Echa singkat karena entahlah Echa merasa sedikit canggung dapat bertemu lagi dengan Nick disini.

"Nice vous rencontrer à nouveau, peut tu me donner ton numéro?" ucap Nick dengan menyunggingkan senyumnya yang indah tapi tak seindah senyuman Avel pikir Echa. Entah kenapa tiba-tiba terlintas wajah Avel yang sedang tersenyum nampak begitu indah di pikiran Echa. Echa segera menghapus lamunan singkatnya itu.


"Bien entendu, cette." jawab Echa sembari menyebutkan nomor ponselnya perlahan kepada Nick.


"Oke merci. vous voir la prochaine fois. au revoir." kata Nick singkat untuk menutup percakapan mereka yang memang sangat singkat itu. 


"Vous êtes les bienvenus. au revoir." balas Echa singkat sekenanya.


Setelah itu Echa pun melanjutkan penjelajahan berbelanjanya yang tadi sempat terpotong dengan pertemuan singkatnya dengan Nick first love-nya. Entah apa yang Echa rasakan sekarang terlebih setelah pertemuannya tadi, seakan membuka kembali kenangan-kenangan indahnya dulu dengan Nick.


Tak lama mamanya datang dan menghapuskan kembali lamunan Echa akan kisah cinta monyetnya itu. Dengan 4 kantong besar belanjaan dari hypermart tadi, mamanya menyuruhnya untuk segera bergegas memilih dan segera pulang. Maka Echa pun langsung mengambil pakaian yang telah ia pilih, membayar, dan segera bergegas pulang dengan mamanya.


Rumah...


Echa memilih gaun hitam dan berdandan seminimalis mungkin. Kemudian bergegas menuruni tangga rumahnya untuk menunggu mamanya yang juga sedang berias. Sembari menunggu mamanya, Echa pun menyalakan tv di ruang keluarga dan menonton channel E! News. Tak dia duga ternyata Nick ada dalam berita tersebut yang mengabarkan bahwa Nick akan menggelar mini concertnya. Ya, Nick sekarang sudah menjadi pianis jazz internasional yang diidamkan para wanita di dunia.


"Ternyata Nick udah terkenal. Ga nyangka dari ribetnya dia dulu les piano akan menjadikan dia musisi muda hebat gini." Echa membatin sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian mamanya pun muncul dari dalam kamarnya dan memanggil Echa untuk berangkat. Echa pun mematikan tv dan segera bergegas.


Restoran...


Akhirnya Echa dan mamanya pun tiba di salah satu restoran mahal dan mewah di Paris, L'Avenue yang terletak di 41, Avenue Montaigne. Restoran ini merupakan restoran favorit di kalangan selebritas dunia. Restoran yang bernuansakan suasana eropa dengan bunga sedap malam di sudut ruangan dan sofa berwarna ungu. Restoran ini juga memiliki meja di bagian terasnya. Rata-rata untuk makanan di restoran ini akan menghabiskan biaya 70 euro per orang. Mamanya sengaja memilihkan restoran ini untuk mereka berdua karena sudah lama mereka tidak spent night time bersama. Jadi, untuk sekali-kalinya tidak apa-apa makan di tempat semewah ini menurut mamanya.


Mereka masuk dan duduk di meja khusus dua orang yang sudah dipesan mamanya sejak seminggu yang lalu. Kemudian mereka memesan menu makanan dan minuman favorit khas restoran tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka pun berbincang-bincang membahas kegiatan-kegiatan yang telah mereka lalui selama Echa berada di Indonesia.


Tidak disangka Echa bertemu dengan Nick yang juga sedang makan disana bersama keluarganya. Echa pun menyapa dan lebih tidak disangka-sangka Mamanya Nick menawarkan untuk Echa dan mamanya duduk semeja dengan mereka. Karena ternyata mamanya Nick adalah teman sekantor mamanya. Oh sempitnya dunia batin Echa.


Dinner malam ini pun berlangsung dengan baik dan menyenangkan bagi orang-orang di meja itu tak terkecuali Echa. Suasana mulai riuh dengan canda tawa dan obrolan-obrolan renyah mamanya dan mamanya Nick. Namun Echa merasa satu hari ini selalu berkaitan dengan Nick dan itu membuatnya awkward.


to be continued...

Rabu, 15 Februari 2012

SSC Part 7

Tap... Tap... Tap...

Suara dentuman langkah kaki memang selalu terdengar lebih keras di koridor ini, koridor yang merupakan satu-satunya akses menuju pepustakaan yang terletak diujung sebelah kanan dari koridor tersebut.

Saat tiba didepan pintu berwarnakan putih cerah dengan garis kusen jingga yang membuat kesan bahwa akan ada sesuatu yang cerah dibalik pintu tersebut. Ya, anggap saja maksudnya itu adalah pencerahan dalam ilmu tentunya. Inilah perpustakaan yang didalamnya sangat terlihat modern dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas teknologi tercanggih abad ini.

Avel segera masuk ke dalam dan menuju rak buku mengenai perpajakan karena kemarin dosen bidang perpajakan Ms. Antoniette menugaskan semua muridnya secara berpasangan untuk mencari sumber-sumber yang terkait dengan laporan yang akan mereka buat, tentunya berkaitan dengan pajak.

Dan pasangan Avel dalam tugas ini tentunya adalah Echa. Karena menurut Avel, dalam mengerjakan tugas jika tugas itu harus berpasangan maka cara paling nyaman adalah dengan orang yang sudah dikenal dekat terlebih sesama Indonesian. Dan Ms. Antoniette juga tidak mempermasalahkan dengan siapa muridnya berpasangan, yang terpenting adalah tugas yang ia berikan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.

Untuk kali ini, Avel harus mencari sumber untuk tugas tersebut sendiri di perpustakaan karena Echa yang sudah punya janji terlebih dahulu dengan ibunya setelah usai kelas terakhir tadi.

Tanpa terasa dia merasa lelah setelah 1 jam mempelajari beberapa buku tentang perpajakan dan mencari sumber yang relevan. Avel pun menggerakkan tangan kirinya spontan dan menyenggol sebuah buku bersampul merah dengan judul 'Puisi Ironis'. Avel merasa tertarik untuk membaca isi buku tersebut walaupun matanya letih tuk melihat rangkaian kata-kata lagi.

Saat Avel membolak-balikkan buku tersebut, ia tertarik pada satu halaman dengan puisi yang berjudul When Loves Come 


Like a couple of birds
Flying together 
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come


-Mayangrani, 2012


Seketika ada desir halus yang menyentak hatinya. Avel pun hanya bisa terdiam merenungi makna puisi itu dan ia pun tak mengerti apa yang membuatnya tersentak ketika membaca puisi tersebut.

Avel pun menyadari bahwa hari kian senja dan ia memutuskan untuk melanjutkan membaca di rumah saja. Kemudian ia bergegas mengumpulkan buku-buku perpajakan yang sedari tadi ia baca untuk dipinjam dan dipelajari lebih lanjut di rumah. Dan meminjam satu buku lagi, tentunya... buku puisi tersebut.

to be continued...

Kamis, 09 Februari 2012

Online Shop

YES !!! I'VE FOUND A SITE FOR ONLINE SHOPPING.



check this out !
www.blibli.com

I want some items there like :

1. Lip Fridge Silver Brushed / Silver White Dial

Lip Fridge Silver Brushed/ Silver White Dial tampil elegan dengan perpaduan penampang jam analog berwarna putih dengan case stainless steel silver pada tali kulit coklat. Jam ini menggunakan mesin Ronda 775 mvt dan tahan dengan tekanan 5 atm.

For: Women
Price: Rp 2.244.000

2. Ciciero Alice Steel Blue

Ciciero Alice Steel Blue, satchel bag berbahan synthetic leather yang didesain dengan detail front pocket, aksen flap dengan gold-tone turn lock dan long messenger strap.

For: Women
Price: Rp 320.000

3. Silverleica Vanilla Cupcake with Ice Cream Scoop Necklace

Silverleica Vanilla Cupcake with Ice Cream Scoop Necklace, kalung dengan detail pendant berbentuk cupcakes dengan topping ice cream scoop dan Czech beads crystals.

For: Women
Price: Rp 135.000

There has many item for all gender. Example:

LIP Automythic Metal Black / Red

LIP Automythic Metal Black / Red, casual watch berdesain simple juga sporty dengan stainless steel strap model bracelet dan aksen warna merah yang hadir pada dial. Seri Automythic dari LIP hadir dalam sistem penunjuk waktu unik berupa jarum static yang menunjuk kombinasi angka jam, menit, dan detik yang ditampilkan oleh 3 turning dial yang berputar di bawahnya.

For: Men
Price: Rp 5.923.650

So, let's check it out ! And enjoy your shopping-time ;)

Selasa, 07 Februari 2012

SSC Part 6

Paris...

Pagi yang cerah namun tak sama seperti saat Echa berada di Jakarta. Ia mulai bersiap-siap untuk memulai aktivitas barunya. Ya, Kuliah.

Dengan memoles bibirnya dengan lipbalm serta ditimpali lipgloss tipis. Ia pun menarik tote bag navy bluenya dan segera bergegas menuju stasiun Metro yang terdekat dari rumahnya yaitu Metro de Paris Jalur 7.

Echa bertempat tinggal di kawasan La Courneuve dengan rumah putih minimalis dua tingkat yang berisikan 3 kamar tidur dengan tiap kamar mandi didalamnya, dapur yang tidak terpisah dengan dining room, garage, family room dengan perapian mini yang siap menghangatkan di kala winter tiba dan sebuah taman menawan di halaman belakang dengan gazebo yang terletak di sudut taman. Spot yang merupakan tempat favorit bagi Echa, terlebih taman ini nampak cantik di malam hari dengan hiasan lampu warna-warni dan bintang yang bertaburan di langit.

Saat berjalan santai sore kemarin, tidak sengaja Echa bertemu dengan Avel yang baru keluar dari gedung apartemennya. Ternyata apartemen Avel juga terletak di kawasan La Courneuve tepatnya 3 blok dari kawasan perumahan Echa. Mereka pun berbincang-bincang penuh keakraban melebihi saat mereka berbincang-bincang di pesawat minggu lalu. Sejak saat itu mereka sering berangkat dan pulang kuliah bersama karena tujuan mereka yang sama.

Tours Campus...

"Hey, Careesa" ucap wanita asli Parisian ini dengan melambaikan tangannya ke arah Echa.

Felice, wanita asli keturunan Perancis yang nampak tinggi langsing seperti model-model yang beberapa kali dilihat Echa pada acara Paris Fashion Week di channel FashionTV. Namun yang ini bukanlah model Parisian, Felice adalah orang yang dikenalnya saat melakukan registrasi ulang 3 hari yang lalu.

"Hey, Felice" jawab Echa sekenanya saja. Maklum Echa tidak terlalu banyak bicara dengan orang yang baru dikenalnya.

"Hey, qui est-il?" tanya Felice saat melihat pria yang berdiri tegap disamping Echa saat ini.

"Oh, son nom est Carvel. Il est l'eleve d'etudes collegiales en trop ici. Meme avec nous." jelas Echa pada Felice yang nampaknya tertarik dengan keindahan fisik Avel.

Ya, Avel memang tak seperti pria Indonesia kebanyakan. Tubuhnya tinggi atletis yang menurut Echa maklum karena Avel adalah pebasket semasa SMA-nya dan sudah gemar bermain basket sejak kecil yang diketahui Echa saat berbincang-bincang selama perjalanannya ke Paris. Dan ternyata Avel memiliki keturunan Perancis juga dari kakek dari ayahnya. Avel mengerti bahasa Perancis karena selama SMP dia sempat tinggal dengan kakeknya yang sehari-hari berkomunikasi dengan Bahasa Perancis saat orangtuanya dinas ke Rusia.

"Hey, ravi de vous recontrer." sapa Avel dengan memberikan senyumannya yang menawan yang selalu membuat kaum hawa meleleh.

Kemudian mereka bertiga berbincang-bincang bersama karena ternyata mereka pun ditempatkan di kelas yang sama pada hari itu.

to be continued...

Rabu, 01 Februari 2012

SSC Part 5

Soekarno-Hatta International Indonesia Airport...


"Navvvyyyy !!! Gue bakal kangen nih sama lo. Ngobrol bareng, becanda bareng, curhat, shopping ya walaupun window shopping tapi... aaaaa Nav, jangan lupain gue yaaa !" pekik Echa sembari menghamburkan pelukan hangatnya pada sahabatnya itu.

"Iya, Cha. Gue juga bakal kangen sama lo nih. Lo sih kuliah jauh bener." jawab Navy dengan mulut manyunnya yang merajuk manja sambil tetap merangkul erat sahabatnya.

Tak terasa tiga tahun sudah Echa berada di Indonesia, ya tepatnya di Jakarta. Kota yang khas dengan gedung-gedung tinggi, mall, kemacetan dan polusi bahkan banjir di beberapa wilayah di kala musim hujan tiba.

Echa yang telah berhasil menamatkan masa SMAnya di Mulia Pertiwi International School akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke bangku kuliah di Ecole Superieure de Commerce Et Management atau yang lebih dikenal dengan Escem School of Business and Management yang terletak di Tours, France. Ia memilih melanjutkan studi kesana selain karena ia kangen Bundanya yang tinggal di Paris, Escem adalah tempat kuliah yang sudah dia idamkan dari sejak ia tamat SMP sehingga Echa seperti dipanggil kembali ke negeri Menara Eiffel itu ketika application form-nya ke Escem diterima.

Sedangkan Navy berencana melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Setelah secara resmi ia dinyatakan diterima di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, ia pun minggu depan akan mulai hijrah ke kota batik dan bakpia, Jogja untuk mengurus segala keperluannya selama menuntut ilmu disana nanti.

Dari kejauhan Echa melihat sesosok pria tegap yang terasa tak asing lagi dilihat oleh matanya. Ia pun mulai mengendurkan dekapannya pada sahabatnya dan memerhatikan sosok tersebut yang berjalan memasuki pintu keberangkatan terminal 2D yang merupakan terminal yang akan ia masuki pula. Hanya dalam hati Echa pun bergumam. Avel.

Navy yang heran melihat temannya melongo seperti itu langsung refleks menyenggol kecil lengan Echa dihadapannya. Sontak Echa pun tersadar dari longoannya dan mengalihkan pandangannya ke Navy yang menatapnya dengan penuh tanya yang seakan wajahnya saja sudah menyiratkan kalimat "Kenapa lo, Cha?" walaupun tak terlisankan oleh Navy.

"Hemm tadi gue kayak lihat mantan lo. Avel."Ngapain ya dia disini? Kok bisa masuk terminal yang sama? Jangan sampai satu gate apalagi satu flight nih bisa grogi banget. ucap Echa yang selebihnya hanya diteruskan didalam hatinya saja.

"Oh, iya gue denger-denger dari teman sekolahnya dulu katanya dia mau studi di luar tapi gatau deh dimana, Cha. Gue udah ga kontakan lagi ya kan lo tau lah sejak kejadian di mall waktu itu dan kenyataan sesungguhnya." terang Navy dengan diakhiri napas yang berat seakan-akan ingin menghilangkan beban yang teramat dalam.

Kejadian 1 bulan lalu saat Navy sedang jalan-jalan di mall dengan Echa untuk mencari kado ulangtahun mamanya Navy yang akan berulangtahun lusanya. Tanpa sengaja Navy melihat Avel dengan seorang gadis ya boleh diakui sih cantik yang mengapit lengan Avel manja. Navy yang tak tahan melihat itu langsung mengajak Echa segera pergi ke tempat lain dan malamnya Navy memutuskan Avel dengan semua tuduhan tersebut. Yang ternyata baru-baru ini ia ketahui bahwa gadis itu adalah sepupu Avel dari Paris yang sedang berlibur di Jakarta dan saat itu menemani Avel untuk membantu memilihkan kado untuk ulangtahun mamanya Navy.

"Hemm yaa.. sabar ya Nav."Lo terlalu gegabah Nav menyia-nyiakan pria seperti Avel. ucap Echa yang seperti tadi setengahnya hanya terucap didalam hati. Mungkin Echa mulai jago untuk berbicara bahasa hati.

Terdengar suara panggilan boarding dari speaker di tiap sudut bandara yang mengharuskan Echa segera bergegas untuk menuju gate waiting room untuk boarding dan sembari memasuki pintu terminal ia menoleh ke Navy dan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.

Saat memasuki pintu pesawat, Echa merasa jantungnya berdegup dan bergetar tak beraturan. Ah kenapa nih? gumamnya dalam hati. Kemudian Echa meneruskan langkahnya dan menatap deretan angka dan huruf untuk mencari seat-nya. Dan tibalah dia dideretan seat-nya dan nampak sosok pria tegap yang sama, sosok pria yang ia lihat tadi saat masih didepan pintu teminal. Avel.

Pantesan aja gue udah ketar-ketir pas masuk pesawat. Huh! gumam Echa kembali dalam hati yang nampaknya akan kian sering ia lakukan. Ia pun melanjutkan langkahnya menduduki seat-nya yang persis bersebelahan dengan seat milik Avel.

"Hai" sapa Avel sembari melepaskan headphone putih yang sedari tadi melekat di telinganya dan dengan dihiasi senyumannya yang khas yang seperti biasa bisa membuat para wanita melting tak terkecuali dengan Echa pastinya.

"Eehh, Hai." jawab Echa gugup tapi tetap mengumbarkan senyuman termanisnya demi membalas senyuman Avel tadi.

"Echa kan? ke Paris juga? Lanjut kuliah disana? Dimana?" tanya Avel yag kata orang-orang terlihat pendiam namun bagi Echa kali ini seperti diinterogasi dengan pertanyaan panjang seperti gerbong kereta api tersebut.

"Hmm, iya aku Echa. Avel kan mantannya Navy? Ups, sorry." kata Echa yang tidak sengaja keceplosan mengucapkan kalimat pertanyaan terakhirnya tadi.

"Hmm iya gpp kok. Oh iya td pertanyaan yang lainnya belom dijawab loh. Hehe" ucap Avel dengan cengirannya yang belum pernah selepas ini dan baru pertama kali Echa melihatnya.

"Oh iya, aku ke Paris. Mau ngunjungin mamaku dulu abis itu mau ke Tours buat ngurus kuliahku disana. Aku kuliah di Escem. Kamu ke Paris dalam rangka apa?" jawab Echa yang diiringi dengan pertanyaan selanjutnya demi terjalinnya komunikasi diantara mereka selama perjalanan. Lumayan ada temen ngobrol, Avel pula.


"Waaahh sama dong aku juga lanjut studi di Escem. Oh mamamu tinggal di Paris toh enak ya ga perlu tinggal di flat sendirian deh." kata Avel nampak begitu cerah entah kenapa.

Percakapan diantara mereka terus berlanjut nampak begitu akrab seperti sudah lama terjalin keakraban seperti ini. Diselilingi canda tawa dan senyuman yang selalu merekah dari keduanya membuat mereka semakin terlihat nyaman dan terasa keakraban. Dan tak lupa Echa-Avel bertukar kontak, agar saat di Paris mereka tetap keep in touch. Maklum tak banyak mahasiswa Indonesia juga disana jadi menjalin keakraban sesama Indonesian sangat penting dilakukan.

Senin, 02 Januari 2012

New Year 2012 !

HAPPY NEW YEAR 2012
"Wish the best in this year includes study, love, and usual life."

Wishes:

1. Study
I hopes get the great GPA more than yesterday. More knowledges which useful for anyone :)

2. Love
I hopes i will get the best and great man who can caring and loving me all the time. And he will be my husband in my future life :)

3. Usual Life
I want the greatest things ever :)