“Bang,
air mineral sebotol yaa !” ucap gadis keperawakan Chinese dengan mata sipit dan
kulit putihnya yang khas Asia ini sambil mengelap peluh keringatnya dengan
handuk kecil pink bunga-bunga yang diujung kiri sisi bawahnya terdapat inisial
DAS, Diva Anindya Soedoro, inisial sang empunya handuk tersebut.
Panasnya
kota Jogja sore ini tak begitu menyengat kulit Diva, cuaca mendung dan tebalnya
awan menghalangi radiasi sinar matahari secara langsung. Tak hanya Diva yang
berpeluh keringat sore itu, tapi juga beberapa orang disekitarnya yang juga
sedang berlari sore sama halnya dengannya. Diva sangat senang mengisi waktu
kosongnya dengan berolahraga terutama berlari sore mengitari Grha Sabha
Pramana, tempat yang berada di kawasan kampusnya yang setiap sore selalu ramai
dikunjungi orang-orang yang juga ingin berlari sore ataupun hanya sekadar
menikmati udara sore.
Setelah
satu jam berlari sore, Diva merasa perutnya keroncongan dan teringat bahwa tadi
siang ia belum sempat makan makanan berat dan hanya makan dua buah popcakes
strawberry yang diberikan Raras, temannya yang senang sekali membuat uji coba
berbagai jenis kue dan menjadikan teman-temannya khususnya temannya yang
merupakan anak kosan seperti Diva untuk mencicipi kue-kue buatannya.
Dua
tahun sudah Diva tak pernah bertemu Evan, bahkan untuk mengirim pesan atau
berteleponan juga tidak. Itu semua terjadi sejak ponsel Diva hilang dua tahun
yang lalu, ketika ia sedang berdesakan di Pasar Beringharjo. Dan saat ini,
orang-orang yang mempunyai nomornya hanya orang-orang terdekatnya atau juga
yang bertanya kepadanya melalui email ataupun situs sosial lainnya.
Ketika
Diva sedang sibuk berkutat di depan layar laptopnya, ponselnya pun bordering
dan bergetar sekali yang menandakan adanya pesan baru masuk. Diva tak pernah
menunda untuk membaca sebuah pesan baru yang masuk ke ponselnya.
“Hai,
Diva. Apa kabar nih?” -08xxxxxx4100. Sebuah pesan singkat yang cukup membuat
Diva heran karena nomor yang tertera di kolom pengirim pesannya itu tidak
dikenalinya. Tapi Diva bukan tipe orang yang suka meladeni orang-orang yang tak
dikenalnya, apalagi orang-orang iseng yang biasa mengirim pesan kepadanya hanya
untuk sekadar kenal atau ingin dekat dengan Diva. Maka dari itu Diva hanya
mengacuhkan pesan singkat tersebut dan melanjutkan untuk menyelesaikan tugas
kuliahnya.
Namun
selang 15 menit, ponselnya kembali bergetar dan Diva pun membaca kembali pesan
singkat yang baru saja masuk ke ponselnya. Disana tertera nomor ponsel yang
sama, nomor ponsel yang tidak tercantum di kontak ponselnya. Dan seperti sebelumnya,
Diva hanya mengacuhkan saja pesan singkat itu.
Dan
10 menit kemudian, ponsel Diva pun bergetar kembali dan Diva dengan ogah-ogahan
membuka kembali kotak pesan di ponselnya. Dan membaca pesan singkat yang
dikirimkan oleh orang yang sama seperti sebelumnya.
“Maaf
lho yaa, aku ga maksud ganggu. Tapi ini apa benar nomor Diva Anindya Soedoro?
Pls bls.” -08xxxxxx4100
Diva
memerhatikan kembali pesan singkat itu dan berpikir sepertinya sang pengirim
pesan itu tidak bermaksud sama seperti orang-orang iseng yang selama ini
beredar di kehidupan Diva. Kemudian akhirnya Diva pun membalas pesan singkat
tersebut walau hanya dengan satu kata.
“Ya.”
Jawaban yang sangat singkat dari Diva tanpa basa-basi yang terlontar sedikit
pun didalam pesan itu.
Namun
Diva tak menyangka bahwa 5 menit kemudian ponselnya pun berdering dan bergetar
panjang yang menandakan bahwa ada panggilan masuk disana. Diva pun melihat
nomor ponsel yang tertera di layar ponselnya dan gotcha! Nomor ponsel yang sama tertera disana. Diva pun mengangkat
panggilan masuk tersebut dengan rasa sedikit penasaran di benaknya.
“Halo.”
Ucap Diva
“Halo,
Div. Apa kabar?” ucap seseorang diseberang sana dengan nada suara yang cukup
berat.
Diva
berpikir sejenak setelah mendengarkan nada suara peneleponnya. Baginya itu
bukanlah suara yang asing didengar telinganya tapi seperti sudah lama tak
didengarnya. Jangan-jangan…. Pikirnya
membatin.
“Baik.
Siapa ya?” jawab Diva sekenanya saja dan langsung meluncurkan pertanyaan yang
bermekaran di kepalanya sekaligus untuk menjawab segala perkiraan dan menghapus
rasa penasarannya.
“Evan,
Div. Lama ya ga kontakan sama kamu. Aku coba nghubungin nomormu eh.. ga
nyambung-nyambung ternyata udah ga aktif ya nomor yang lama. Baru tau ini
nomormu yang baru dari Dwi pas reunian kemarin. Kangen juga sama lo!” jawab
Evan panjang lebar menjawab semua rasa penasaran Diva.
Diva
hanya terdiam mendengarkan kenyataan bahwa orang diseberang sana adalah orang
yang diharapkannya, orang yang selalu hadir dalam ingatannya, dan orang yang
sama yang telah membuatnya menunggu selama dua tahun ini.
“Besok
gue mau ke Jogja lho, Div. Mau refreshing gitu sekalian mau ketemu lo. Udah
lama kan ga ketemu. Nanti main yaaa, see you tomorrow !” ucap Evan menutup
percakapannya pada Diva.
“Ha?
Oh ya. See you too.” Ucap Diva sedikit gelagapan terlebih ketika Evan
menyatakan kerinduannya pada Diva yang membuat debaran jantungnya pun tak
menentu. Rasa senangnya malam ini sudah tak tertahan memuncak. Akhirnya kesempatan itu masih ada. Sesuatu yang
telah lama hilang pasti akan kembali jika kembalilah takdirnya. Dan Diva pun
yakin akan hal itu.










