Selasa, 02 April 2013

SSC Part 10


Manyun. Ya, itulah yang nampak pada wajah Echa siang ini. Saat di kelas Bisnis Internasionalnya Mr. Kender, Echa nampak tidak bersemangat mengikuti kegiatan perkuliahan hari ini sepertinya materi yang diajarkan siang ini cukup membosankan baginya. Dari tadi Echa hanya mencoret-coret buku tulisnya seolah sedang mencatat materi padahal ia hanya sibuk menuliskan list tempat untuk liburan musim panas terakhirnya di Paris ini karena inilah tahun terakhir ia di bangku kuliah.

Avel hanya memperhatikan gerak-gerik Echa yang nampak kurang bersemangat hari ini. Saat jam kelas ini usai, Avel segera menghampiri meja Echa yang tidak disadari Echa. Avel melihat dari balik punggung Echa apa yang sedang dituliskannya di kertas itu. Avel seketika mendapatkan ide dan dia hanya senyum-senyum sendiri saja saat itu. Dan kemudian segera bergegas menuju Echa untuk mengajaknya ke kafetaria kampus karena break kuliah ini hanya berlangsung 30 menit.

Kafetaria...

Sesampainya mereka di kafetaria, mereka langsung memesan makanan dan minuman favoritnya french fries&coke sangat sederhana.

“Eh, nanti jadi kan?” tanya Avel pada Echa setelah mereka mendapatkan mejanya di baris kedua pintu masuk.

“Of course. Nanti gue kenalin sama teman gue yang satu ini. Dia musisi jazz internasional, jadi nanti jangan aneh kalau gayanya yaaa kayak pangeran-pangeran charming gitu deh.” kata Echa singkat tapi sebenarnya ingin dipanjang-lebarkan.

“Ouh. Pasti bukan orang Indonesia.” tebak Avel akan teman Echa tersebut.

“Iya, dia pure parisian. Jadi siapin baik-baik pake Bahasa Perancis terus nanti, tapi yaaa berhubung dia musisi internasional pasti Englishnya ga buruk.” Jelas Echa tentang Nick.

“Seru juga. Berarti nanti kalau mau ngomongin dia, pake Bahasa Indonesia aja depan dia pasti ga ngerti kan. Hahaha..” ucap Avel semena-mena ingin mengerjai teman Echa itu.

“Hahaha... ya jangan gitu jugalah. Nanti dia pasti nanyain maksudnya apa, kan males ngejelasinnya.” terang Echa sedikit terhibur dengan ide jahil Avel, namun agak kasihan juga jika itu dilakukan kepada Nick.

Tiga puluh menit kemudian mereka pun kembali ke dalam kelas untuk melanjutkan materi perkuliahan Bisnis Internasionalnya yang tinggal tersisa waktu satu jam lagi.
“It’s time to going bored again, Echa.” ucap Echa pada dirinya sendiri, namun masih bisa terdengar oleh Avel ketika ia melalui meja Echa untuk menuju mejanya dan Avel hanya senyum kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Satu jam tidak begitu terasa lama bagi Avel, namun tidak bagi Echa yang nampak sangat bersyukur akhirnya kelas itu telah usai dan mereka pun bersiap-siap untuk menuju tempat pertemuan antara mereka dan Nick.

La Rotonde...

Saat memasuki kafe ini, suasana nampak begitu bersemangat dengan dinding yang berwarnakan merah yang nampak membuat orang-orang yang datang bangkit hasratnya untuk makan, kursi coklat dan meja yang beralaskan kain putih menambah suasana menjadi cantik.

Ketika Echa dan Avel memasuki ruangan kafe ini, mereka langsung dapat memilih meja secara leluasa karena nampak sedang tidak begitu ramai. Avel memilihkan tempat persis di pojok yang bersisikan jendela dengan sekat-sekat kayu.

Mereka tiba lebih awal 15 menit dari jam janji pertemuannya dengan Nick. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu karena perut mereka sudah tak bisa menunggu. Mereka memesan cukup banyak diantaranya beef chops, beef steaks, the oysters,dan the sole menuniere.

Lima belas menit kemudian makanan mereka pun tiba namun Nick belum juga ada tanda-tanda batang hidungnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan saja duluan dan sepuluh menit kemudian mereka selesai makan tepat dengan Nick baru tiba di kafe tersebut.

“Hey, sorry i’m late cause i’ve training for my mini concert in 3 days later.” Ucap Nick penuh penyesalan karena keterlambatannya yang cukup lama.

“Oh, no problem. But we have lunch first before you came. So, if you wanna order yours. It’s okay. And this is my friend Carvel.” Kata Echa menjelaskan ditutup dengan ia memperkenalkan Avel pada Nick.

“Hey, Carvel. I’m Nick.” Ucap Nick sembari menjulurkan tangannya tanda perkenalan mereka.

“Hey, too. Nice to know you.” Balas Avel dengan menjabat uluran tangan Nick tadi.

Setelah perkenalan itu Echa menceritakan awal pertemuannya dengan Avel dan tentunya bukan bagian saat ia dulu menguntit atau memata-matai Avel secara diam-diam saat bermain basket di lapangan taman kompleks perumahan mereka. Echa hanya menceritakan dari pertemuan yang Avel ketahui saja yaitu saat Avel usai bertanding basket dan saat Avel masih jadian sama Navy sahabatnya di Indonesia. Echa menjelaskan panjang lebar sampai cerita pertemuannya dengan Avel di pesawat dan membuatnya semakin akrab sampai saat ini menjalin persahabatan.

Nick hanya mendengarkan saja dengan baik dan tertawa di sela cerita Echa yang lucu. Echa selalu terlihat menarik bagi Nick dan tidak pernah berubah sejak dulu seperti yang Nick kenal selalu ceria. Nick melihat keakraban yang amat dekat antara Avel dan Echa bahkan melebihi kata persahabatan yang mereka ucapkan. Dan entah kenapa Nick merasa tersaingi yang seharusnya tak ia rasakan karena Echa dengannya juga hanya sekedar sahabat dan tidak pernah lebih dari sejak dulu.

Tanpa Nick sadari Avel mengamati dirinya lekat-lekat. Avel memperhatikan gerak-gerik Nick yang nampak serius sekali mendengarkan Echa seperti menyimpan sesuatu hal. Avel mengamati gaya berpakaian Nick juga yang sesuai sekali dengan apa yang diucapkan Echa saat di kafetaria kampus tadi, gayanya memang baik bagi Avel. Dan tanpa Avel duga desir itu muncul lagi ketika ia terlalu dalam mengamati tatapan Nick pada Echa yang sibuk mengoceh dari tadi.

Setelah Echa selesai bercerita, sekarang giliran Nick yang bercerita. Nick menjelaskan tentang mini concertnya yang hanya berdurasi 1,5 jam saja dan baru pertama kali ia mengadakan konser tunggal seperti ini. Dan ia memilih Paris sebagai tempat pertamanya untuk menghargai tempat kelahirannya.
Avel juga menyimak dengan baik rencana mini concert Nick tersebut karena sejujurnya Avel juga menyukai aliran musik jazz sama dengan yang dimainkan oleh Nick. Echa juga tahu akan selera musik favorit Avel ini dan mungkin karena itu juga Echa mengajaknya kesini.

Tidak terasa mereka sudah berbincang-bincang selama 1,5 jam. Lebih setengah jam dari yang ditargetkan Echa dan Echa pun menyudahi percakapan ini dengan menjelaskan pada Nick bahwa ia dan Avel harus pulang untuk melanjutkan tugas mereka yang sudah deadline besok siang.

Nick pun menyetujui untuk mengakhiri percakapan kali ini dan mengatakan sangat senang bisa kenal dengan Avel yang ternyata memiliki selera musik yang sama dengannya. Dan oleh karena itu, Nick pun sudah mempersiapkan 2 tiket gratis acara mini concertnya nanti. Kemudian segera ia serahkan pada Echa dan Avel serta melambaikan tangan karena mereka berbeda arah tujuan.

Rumah Echa...

“Akhirnyaaaaa.. nyampe rumah juga. Capek.” Ucap Echa sembari merebahkan dirinya di sofa coklat yang sangat comfy itu.

“Hahaha... tapi kita masih punya tugas dengan deadline besok jadi kita begadang, Cha. Bolehlah kita istirahat dulu 15 menit.” Kata Avel walaupun sedikit gusar karena ini sudah agak malam dan berarti dia akan pulang sangat larut malam.

Tiba-tiba mamanya Echa datang menuju tempat mereka baru tiba tadi dengan dua gelas orange juice dan cemilan tentunya. Mama Echa juga menyarankan jika tugasnya selesai larut malam, Avel boleh menginap di kamar kosong depan kamar Echa yang sudah disiapkan oleh mamanya Echa tadi sebelum mereka pulang.

Akhirnya mereka pun mengerjakan tugasnya di gazebo halaman belakang rumah Echa dan benar selesai larut malam. Avel pun tidak gusar karena diizinkan menginap disana bahkan dipinjamkan kaos gombrong Echa yang sangat muat dengan badan Avel.