Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba,
Nick sudah sangat tidak sabar akan menunjukkan kemampuan bermusiknya setelah
latihan cukup panjang dan melelahkan. Mini konser yang akan diadakan di gedung
pertunjukkan sekaligus restaurant yang bertempat di Bal du Moulin Rouge –
Montmarte 82, Boulevard de Clichy – Place Blanche, Paris ini cukup terkesan
mewah untuk ukuran mini konser terlebih seniman muda seperti Nick. Ya,
orangtuanya cukup merogoh kocek cukup dalam demi mewujudkan mimpi sang anak.
Mereka menyewakan satu tempat itu khusus untuk mini konser Nick yang berjudul
“L’etoile montante”.
Sebelum pertunjukkan, Nick pun
masih melakukan latihan-latihan kecil dengan jari-jarinya yang menekan tuts
hitam-putih kesana kemari sebagai pemanasan. Setelah cukup yakin dengan
pemanasannya, ia pun berkeliling tempat restaurant&show itu untuk memastikan
bahwa tempat para penontonnya akan terasa nyaman saat mendengarkan alunan musik
pianonya. Dan tersenyum kecil menyiratkan bahwa ia menyimpan sesuatu hal
menarik dibenaknya.
Rumah Echa…
Malam hari ini nampak begitu cerah
di kota Paris, entah mengapa rasanya Echa sangat senang dan merasa good-mood
sekali. Entah karena malam ini ia akan pergi berdua dengan Avel untuk menonton
konser musical ataukah karena malam ini ia akan menonton konser Nick. Echa pun
tak yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini.
Ia pun bergegas mengobrak-abrik isi
lemarinya guna mencari pakaian yang sesuai dengan konser Nick malam ini. Dan
pilihannya pun jatuh kepada sebuah tube
dress hitam, yang dibelikan mamanya minggu lalu saat ia sedang berjalan di Avenue
Montaigne, jalan termewah di Paris. Tube
dress hitam rancangan Nina Ricci itu membuat tubuh mungil Echa nampak
semakin slim dan indah. Kemudian ia
pun beranjak untuk berdandan natural minimalis karena pada dasarnya ia tidak
begitu senang berdandan, maka malam ini ia hanya memulas pipinya dengan sedikit
bedak, blush on tipis, dan lipstick berwarna nude-jingga. Itu
semua sudah cukup membuatnya tampak cantik, fresh,
dan anggun. Ia pun bergegas turun ke lantai dasar rumahnya setelah
mengenakan sepatu dan clutch dengan
warna senada, merah.
Dan di lantai dasar ternyata sudah
ada Avel yang menunggunya. Avel nampak begitu tampan dan gagah, tapi tetap
terlihat ringan dengan setelan jas hitam dipadu dengan kemeja merah maroon kemudian rambutnya yang dibiarkan
sedikit acak dengan gel. Kemudian mereka pun segera bergegas menuju tempat
acara dengan mengendarai mobil mama Echa yang dipinjamkan dengan syarat Avel harus
menjaga Echa baik-baik. Tentu saja dengan senang hati Avel akan melaksanakan
syaratnya.
Moulin Rouge…
Jalanan kota Paris malam hari
ternyata tidak begitu padat, sangat berbeda dengan jalanan di ibukota Jakarta.
Cukup waktu setengah jam, Echa dan Avel pun tiba di gedung Moulin Rouge, gedung yang cukup indah dengan
kincir angin di bagian atas seperti di negeri Belanda. Echa dan Avel pun
bergegas masuk ke dalam gedung itu dan menunjukkan undangan yang telah diberikan
Nick, tanda bahwa mereka adalah tamu undangan dan ditempatkan khusus bersama
tamu undangan lainnya.
Nick pun melihat kehadiran Echa dan
Avel dari balik tirai backstage dan
tersenyum kecil sama seperti senyuman yang ditunjukkannya pada waktu pemanasan
sore tadi. Entah apa yang sedang ada dalam benak Nick, pastinya ia sedang
merasa senang malam ini.
Echa dan Avel pun telah duduk pada
tempat yang disediakan dan tidak begitu jauh dari panggung, tempat dimana Nick
akan perform malam ini. Pelayan restaurant tidak memberikan buku menu lagi dan
langsung menghidangkan botol-botol champagne
beserta snacks yang memang telah
dipesan khusus oleh Nick untuk para tamu undangannya. Echa hanya memerhatikan
gerak-gerik pelayan yang gesit menghidangkan ini-itu dan terpikir dibenaknya. Ini pasti mahal banget. Too exclusive untuk
sebuah mini konser.
5 menit kemudian, acara pun dimulai
dengan sambutan dari MC dan kemudian keluarlah Nick dari balik tirai merah yang
menutupi panggung sedari tadi. Nick tampak keren dengan setelan jas putih yang
senada dengan celana dan sepatunya yang dipadukan dengan kemeja hitam dan
setangkai mawar di saku jasnya. Nick pun mulai menggerakkan lagu pertamanya Forelise, jari-jarinya pun menari-nari
indah diatas tuts hitam-putih seiring dengan alunan nada yang mengalun merdu.
Mini konser ini pun ditutup dengan
lagu ke delapan yaitu First Love by
Nikka Costa dan tiba-tiba lampu meredup, hanya ada satu sorotan cahaya yang
terpancar ke arah Nick yang sedang memainkan piano. Kemudian diakhir lagu itu,
Nick pun berkata “For my first love, Carressa Hadiwinata.” dan keluarlah
sorotan cahaya kedua yang langsung mengarah kepada Echa.
Echa pun hanya bisa terdiam,
terpaku, dan tak tahu harus berbuat apa. Entah apa yang ia rasakan malu, grogi,
ataukah senang? Perasaannya campur aduk saat ini. Dan yang ia lakukan hanya
melirik sedikit ke arah Avel yang nampak seperti orang gusar menurut Echa, tapi
entahlah mungkin ia hanya salah lihat terlebih sorotan cahaya yang kearahnya
telah meredup dan kemudian lampu di ruangan itu kembali terang benderang.
Nick pun menyelesaikan mini
konsernya dengan sempurna dan bergumam dalam hati. Sempurna. Ia pun mendapat tepuk tangan yang meriah dari para
penonton setelah menerima sebuket mawar biru-putih-merah yang indah, lalu
tersenyum senang sambil melambaikan tangan kepada penonton dan kembali
menghilang di balik tirai merah yang menutupi panggung.
Echa dan Avel pun berjalan menuju backstage untuk memberikan ucapan
selamat atas suksesnya mini konser itu secara langsung. Avel berjalan
dibelakang Echa, menyusuri lorong ruang belakang backstage gedung konser itu.
Setibanya di backstage, Nick langsung menyambut mereka dengan ramah. Echa pun
menyalami Nick atas kesuksesan konsernya malam itu dan tidak menyinggung
tindakan Nick tadi sama sekali. Nick pun hanya merasa penasaran dengan apa yang
dilakukan Echa saat itu, ia merasa Echa menganggap seolah kejadian tadi tak
pernah ada. Nick merasa sedikit kecewa.
Avel pun kemudian turut menyalami
Nick atas kesuksesannya tadi dan sedikit puas atas tindakan Echa yang tidak
membahas sama sekali tentang tindakan Nick saat menutup mini konsernya.
Echa pun berpamitan dengan Nick dan
sekali lagi mengucapkan selamat atas kesuksesannya malam itu. Dan begitu pula
dengan Avel yang juga berpamitan pada Nick dengan senyuman singkat
dibelakangnya.
Nick merasa Echa tak
mengapresiasikan surprise yang telah
ia rancang sejak ide mini konser ini terbentuk. Kecewa, ya itulah yang
dirasakan Nick malam itu walaupun mini konsernya berjalan dengan lancar tapi
ada sesuatu yang kurang sempurna baginya. Carressa.
Perjalanan pulang…
Avel hanya duduk diam dibalik
kemudi setir tanpa berani membuka obrolan dengan Echa. Ia bingung apa yang
harus ia katakan, baru kali ini ia merasa canggung berada didekat Echa. Avel
bingung dan tak berani menebak-nebak apa yang sedang Echa rasakan.
Begitu pula dengan Echa yang masih
bingung dengan sikap dan tindakan Nick saat mini konser tadi berlangsung.
Banyak pertanyaan muncul di benak Echa, sejak kapan Nick menyukainya? Mengapa
dia? Mengapa harus saat itu Nick berkata itu? Apa ini yang Echa harapkan dari
Nick? Dan banyak pertanyaan lainnya bermunculan.
Rumah Echa…
Setibanya mereka di rumah Echa,
akhirnya Avel berani membuka obrolan hanya sekadar untuk berpamitan karena
takut malam kian larut. Avel tak sempat berpamitan dengan mama Echa karena mama
Echa sedang menerima telepon. Echa pun mengantar Avel sampai depan rumahnya dan
kembali masuk ke dalam rumah ketika sosok Avel telah menghilang di ujung jalan.
Echa membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Tapi malam ini, ia tidak bisa tidur cepat. Ia masih kepikiran akan semua hal yang terjadi hari ini. Dan ia sendiri pun masih penasaran dengan perasaan hatinya tentang apa yang sebenarnya ia rasakan pada Nick dan juga Avel. Dalam pikirnya, ia pun tak sadar dan tertidur.