Kamis, 02 Mei 2013

SSC Part 11


Hari yang ditunggu-tunggu pun tiba, Nick sudah sangat tidak sabar akan menunjukkan kemampuan bermusiknya setelah latihan cukup panjang dan melelahkan. Mini konser yang akan diadakan di gedung pertunjukkan sekaligus restaurant yang bertempat di Bal du Moulin Rouge – Montmarte 82, Boulevard de Clichy – Place Blanche, Paris ini cukup terkesan mewah untuk ukuran mini konser terlebih seniman muda seperti Nick. Ya, orangtuanya cukup merogoh kocek cukup dalam demi mewujudkan mimpi sang anak. Mereka menyewakan satu tempat itu khusus untuk mini konser Nick yang berjudul “L’etoile montante”.

Sebelum pertunjukkan, Nick pun masih melakukan latihan-latihan kecil dengan jari-jarinya yang menekan tuts hitam-putih kesana kemari sebagai pemanasan. Setelah cukup yakin dengan pemanasannya, ia pun berkeliling tempat restaurant&show itu untuk memastikan bahwa tempat para penontonnya akan terasa nyaman saat mendengarkan alunan musik pianonya. Dan tersenyum kecil menyiratkan bahwa ia menyimpan sesuatu hal menarik dibenaknya.

Rumah Echa…

Malam hari ini nampak begitu cerah di kota Paris, entah mengapa rasanya Echa sangat senang dan merasa good-mood sekali. Entah karena malam ini ia akan pergi berdua dengan Avel untuk menonton konser musical ataukah karena malam ini ia akan menonton konser Nick. Echa pun tak yakin dengan apa yang dirasakannya saat ini.

Ia pun bergegas mengobrak-abrik isi lemarinya guna mencari pakaian yang sesuai dengan konser Nick malam ini. Dan pilihannya pun jatuh kepada sebuah tube dress hitam, yang dibelikan mamanya minggu lalu saat ia sedang berjalan di Avenue Montaigne, jalan termewah di Paris. Tube dress hitam rancangan Nina Ricci itu membuat tubuh mungil Echa nampak semakin slim dan indah. Kemudian ia pun beranjak untuk berdandan natural minimalis karena pada dasarnya ia tidak begitu senang berdandan, maka malam ini ia hanya memulas pipinya dengan sedikit bedak, blush on tipis, dan lipstick berwarna nude-jingga. Itu semua sudah cukup membuatnya tampak cantik, fresh, dan anggun. Ia pun bergegas turun ke lantai dasar rumahnya setelah mengenakan sepatu dan clutch dengan warna senada, merah.

Dan di lantai dasar ternyata sudah ada Avel yang menunggunya. Avel nampak begitu tampan dan gagah, tapi tetap terlihat ringan dengan setelan jas hitam dipadu dengan kemeja merah maroon kemudian rambutnya yang dibiarkan sedikit acak dengan gel. Kemudian mereka pun segera bergegas menuju tempat acara dengan mengendarai mobil mama Echa yang dipinjamkan dengan syarat Avel harus menjaga Echa baik-baik. Tentu saja dengan senang hati Avel akan melaksanakan syaratnya.

Moulin Rouge…

Jalanan kota Paris malam hari ternyata tidak begitu padat, sangat berbeda dengan jalanan di ibukota Jakarta. Cukup waktu setengah jam, Echa dan Avel pun tiba di gedung  Moulin Rouge, gedung yang cukup indah dengan kincir angin di bagian atas seperti di negeri Belanda. Echa dan Avel pun bergegas masuk ke dalam gedung itu dan menunjukkan undangan yang telah diberikan Nick, tanda bahwa mereka adalah tamu undangan dan ditempatkan khusus bersama tamu undangan lainnya.

Nick pun melihat kehadiran Echa dan Avel dari balik tirai backstage dan tersenyum kecil sama seperti senyuman yang ditunjukkannya pada waktu pemanasan sore tadi. Entah apa yang sedang ada dalam benak Nick, pastinya ia sedang merasa senang malam ini.

Echa dan Avel pun telah duduk pada tempat yang disediakan dan tidak begitu jauh dari panggung, tempat dimana Nick akan perform malam ini. Pelayan restaurant tidak memberikan buku menu lagi dan langsung menghidangkan botol-botol champagne beserta snacks yang memang telah dipesan khusus oleh Nick untuk para tamu undangannya. Echa hanya memerhatikan gerak-gerik pelayan yang gesit menghidangkan ini-itu dan terpikir dibenaknya. Ini pasti mahal banget. Too exclusive untuk sebuah mini konser.

5 menit kemudian, acara pun dimulai dengan sambutan dari MC dan kemudian keluarlah Nick dari balik tirai merah yang menutupi panggung sedari tadi. Nick tampak keren dengan setelan jas putih yang senada dengan celana dan sepatunya yang dipadukan dengan kemeja hitam dan setangkai mawar di saku jasnya. Nick pun mulai menggerakkan lagu pertamanya Forelise, jari-jarinya pun menari-nari indah diatas tuts hitam-putih seiring dengan alunan nada yang mengalun merdu.

Mini konser ini pun ditutup dengan lagu ke delapan yaitu First Love by Nikka Costa dan tiba-tiba lampu meredup, hanya ada satu sorotan cahaya yang terpancar ke arah Nick yang sedang memainkan piano. Kemudian diakhir lagu itu, Nick pun berkata “For my first love, Carressa Hadiwinata.” dan keluarlah sorotan cahaya kedua yang langsung mengarah kepada Echa.

Echa pun hanya bisa terdiam, terpaku, dan tak tahu harus berbuat apa. Entah apa yang ia rasakan malu, grogi, ataukah senang? Perasaannya campur aduk saat ini. Dan yang ia lakukan hanya melirik sedikit ke arah Avel yang nampak seperti orang gusar menurut Echa, tapi entahlah mungkin ia hanya salah lihat terlebih sorotan cahaya yang kearahnya telah meredup dan kemudian lampu di ruangan itu kembali terang benderang.

Nick pun menyelesaikan mini konsernya dengan sempurna dan bergumam dalam hati. Sempurna. Ia pun mendapat tepuk tangan yang meriah dari para penonton setelah menerima sebuket mawar biru-putih-merah yang indah, lalu tersenyum senang sambil melambaikan tangan kepada penonton dan kembali menghilang di balik tirai merah yang menutupi panggung.

Echa dan Avel pun berjalan menuju backstage untuk memberikan ucapan selamat atas suksesnya mini konser itu secara langsung. Avel berjalan dibelakang Echa, menyusuri lorong ruang belakang backstage gedung konser itu.

Setibanya di backstage, Nick langsung menyambut mereka dengan ramah. Echa pun menyalami Nick atas kesuksesan konsernya malam itu dan tidak menyinggung tindakan Nick tadi sama sekali. Nick pun hanya merasa penasaran dengan apa yang dilakukan Echa saat itu, ia merasa Echa menganggap seolah kejadian tadi tak pernah ada. Nick merasa sedikit kecewa.

Avel pun kemudian turut menyalami Nick atas kesuksesannya tadi dan sedikit puas atas tindakan Echa yang tidak membahas sama sekali tentang tindakan Nick saat menutup mini konsernya.
Echa pun berpamitan dengan Nick dan sekali lagi mengucapkan selamat atas kesuksesannya malam itu. Dan begitu pula dengan Avel yang juga berpamitan pada Nick dengan senyuman singkat dibelakangnya.

Nick merasa Echa tak mengapresiasikan surprise yang telah ia rancang sejak ide mini konser ini terbentuk. Kecewa, ya itulah yang dirasakan Nick malam itu walaupun mini konsernya berjalan dengan lancar tapi ada sesuatu yang kurang sempurna baginya. Carressa.

Perjalanan pulang…

Avel hanya duduk diam dibalik kemudi setir tanpa berani membuka obrolan dengan Echa. Ia bingung apa yang harus ia katakan, baru kali ini ia merasa canggung berada didekat Echa. Avel bingung dan tak berani menebak-nebak apa yang sedang Echa rasakan.

Begitu pula dengan Echa yang masih bingung dengan sikap dan tindakan Nick saat mini konser tadi berlangsung. Banyak pertanyaan muncul di benak Echa, sejak kapan Nick menyukainya? Mengapa dia? Mengapa harus saat itu Nick berkata itu? Apa ini yang Echa harapkan dari Nick? Dan banyak pertanyaan lainnya bermunculan.

Rumah Echa…

Setibanya mereka di rumah Echa, akhirnya Avel berani membuka obrolan hanya sekadar untuk berpamitan karena takut malam kian larut. Avel tak sempat berpamitan dengan mama Echa karena mama Echa sedang menerima telepon. Echa pun mengantar Avel sampai depan rumahnya dan kembali masuk ke dalam rumah ketika sosok Avel telah menghilang di ujung jalan.

Echa membersihkan diri dan berganti pakaian tidur. Tapi malam ini, ia tidak bisa tidur cepat. Ia masih kepikiran akan semua hal yang terjadi hari ini. Dan ia sendiri pun masih penasaran dengan perasaan hatinya tentang apa yang sebenarnya ia rasakan pada Nick dan juga Avel. Dalam pikirnya, ia pun tak sadar dan tertidur.

Selasa, 02 April 2013

SSC Part 10


Manyun. Ya, itulah yang nampak pada wajah Echa siang ini. Saat di kelas Bisnis Internasionalnya Mr. Kender, Echa nampak tidak bersemangat mengikuti kegiatan perkuliahan hari ini sepertinya materi yang diajarkan siang ini cukup membosankan baginya. Dari tadi Echa hanya mencoret-coret buku tulisnya seolah sedang mencatat materi padahal ia hanya sibuk menuliskan list tempat untuk liburan musim panas terakhirnya di Paris ini karena inilah tahun terakhir ia di bangku kuliah.

Avel hanya memperhatikan gerak-gerik Echa yang nampak kurang bersemangat hari ini. Saat jam kelas ini usai, Avel segera menghampiri meja Echa yang tidak disadari Echa. Avel melihat dari balik punggung Echa apa yang sedang dituliskannya di kertas itu. Avel seketika mendapatkan ide dan dia hanya senyum-senyum sendiri saja saat itu. Dan kemudian segera bergegas menuju Echa untuk mengajaknya ke kafetaria kampus karena break kuliah ini hanya berlangsung 30 menit.

Kafetaria...

Sesampainya mereka di kafetaria, mereka langsung memesan makanan dan minuman favoritnya french fries&coke sangat sederhana.

“Eh, nanti jadi kan?” tanya Avel pada Echa setelah mereka mendapatkan mejanya di baris kedua pintu masuk.

“Of course. Nanti gue kenalin sama teman gue yang satu ini. Dia musisi jazz internasional, jadi nanti jangan aneh kalau gayanya yaaa kayak pangeran-pangeran charming gitu deh.” kata Echa singkat tapi sebenarnya ingin dipanjang-lebarkan.

“Ouh. Pasti bukan orang Indonesia.” tebak Avel akan teman Echa tersebut.

“Iya, dia pure parisian. Jadi siapin baik-baik pake Bahasa Perancis terus nanti, tapi yaaa berhubung dia musisi internasional pasti Englishnya ga buruk.” Jelas Echa tentang Nick.

“Seru juga. Berarti nanti kalau mau ngomongin dia, pake Bahasa Indonesia aja depan dia pasti ga ngerti kan. Hahaha..” ucap Avel semena-mena ingin mengerjai teman Echa itu.

“Hahaha... ya jangan gitu jugalah. Nanti dia pasti nanyain maksudnya apa, kan males ngejelasinnya.” terang Echa sedikit terhibur dengan ide jahil Avel, namun agak kasihan juga jika itu dilakukan kepada Nick.

Tiga puluh menit kemudian mereka pun kembali ke dalam kelas untuk melanjutkan materi perkuliahan Bisnis Internasionalnya yang tinggal tersisa waktu satu jam lagi.
“It’s time to going bored again, Echa.” ucap Echa pada dirinya sendiri, namun masih bisa terdengar oleh Avel ketika ia melalui meja Echa untuk menuju mejanya dan Avel hanya senyum kecil sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.

Satu jam tidak begitu terasa lama bagi Avel, namun tidak bagi Echa yang nampak sangat bersyukur akhirnya kelas itu telah usai dan mereka pun bersiap-siap untuk menuju tempat pertemuan antara mereka dan Nick.

La Rotonde...

Saat memasuki kafe ini, suasana nampak begitu bersemangat dengan dinding yang berwarnakan merah yang nampak membuat orang-orang yang datang bangkit hasratnya untuk makan, kursi coklat dan meja yang beralaskan kain putih menambah suasana menjadi cantik.

Ketika Echa dan Avel memasuki ruangan kafe ini, mereka langsung dapat memilih meja secara leluasa karena nampak sedang tidak begitu ramai. Avel memilihkan tempat persis di pojok yang bersisikan jendela dengan sekat-sekat kayu.

Mereka tiba lebih awal 15 menit dari jam janji pertemuannya dengan Nick. Akhirnya mereka memutuskan untuk memesan makanan terlebih dahulu karena perut mereka sudah tak bisa menunggu. Mereka memesan cukup banyak diantaranya beef chops, beef steaks, the oysters,dan the sole menuniere.

Lima belas menit kemudian makanan mereka pun tiba namun Nick belum juga ada tanda-tanda batang hidungnya. Akhirnya mereka memutuskan untuk makan saja duluan dan sepuluh menit kemudian mereka selesai makan tepat dengan Nick baru tiba di kafe tersebut.

“Hey, sorry i’m late cause i’ve training for my mini concert in 3 days later.” Ucap Nick penuh penyesalan karena keterlambatannya yang cukup lama.

“Oh, no problem. But we have lunch first before you came. So, if you wanna order yours. It’s okay. And this is my friend Carvel.” Kata Echa menjelaskan ditutup dengan ia memperkenalkan Avel pada Nick.

“Hey, Carvel. I’m Nick.” Ucap Nick sembari menjulurkan tangannya tanda perkenalan mereka.

“Hey, too. Nice to know you.” Balas Avel dengan menjabat uluran tangan Nick tadi.

Setelah perkenalan itu Echa menceritakan awal pertemuannya dengan Avel dan tentunya bukan bagian saat ia dulu menguntit atau memata-matai Avel secara diam-diam saat bermain basket di lapangan taman kompleks perumahan mereka. Echa hanya menceritakan dari pertemuan yang Avel ketahui saja yaitu saat Avel usai bertanding basket dan saat Avel masih jadian sama Navy sahabatnya di Indonesia. Echa menjelaskan panjang lebar sampai cerita pertemuannya dengan Avel di pesawat dan membuatnya semakin akrab sampai saat ini menjalin persahabatan.

Nick hanya mendengarkan saja dengan baik dan tertawa di sela cerita Echa yang lucu. Echa selalu terlihat menarik bagi Nick dan tidak pernah berubah sejak dulu seperti yang Nick kenal selalu ceria. Nick melihat keakraban yang amat dekat antara Avel dan Echa bahkan melebihi kata persahabatan yang mereka ucapkan. Dan entah kenapa Nick merasa tersaingi yang seharusnya tak ia rasakan karena Echa dengannya juga hanya sekedar sahabat dan tidak pernah lebih dari sejak dulu.

Tanpa Nick sadari Avel mengamati dirinya lekat-lekat. Avel memperhatikan gerak-gerik Nick yang nampak serius sekali mendengarkan Echa seperti menyimpan sesuatu hal. Avel mengamati gaya berpakaian Nick juga yang sesuai sekali dengan apa yang diucapkan Echa saat di kafetaria kampus tadi, gayanya memang baik bagi Avel. Dan tanpa Avel duga desir itu muncul lagi ketika ia terlalu dalam mengamati tatapan Nick pada Echa yang sibuk mengoceh dari tadi.

Setelah Echa selesai bercerita, sekarang giliran Nick yang bercerita. Nick menjelaskan tentang mini concertnya yang hanya berdurasi 1,5 jam saja dan baru pertama kali ia mengadakan konser tunggal seperti ini. Dan ia memilih Paris sebagai tempat pertamanya untuk menghargai tempat kelahirannya.
Avel juga menyimak dengan baik rencana mini concert Nick tersebut karena sejujurnya Avel juga menyukai aliran musik jazz sama dengan yang dimainkan oleh Nick. Echa juga tahu akan selera musik favorit Avel ini dan mungkin karena itu juga Echa mengajaknya kesini.

Tidak terasa mereka sudah berbincang-bincang selama 1,5 jam. Lebih setengah jam dari yang ditargetkan Echa dan Echa pun menyudahi percakapan ini dengan menjelaskan pada Nick bahwa ia dan Avel harus pulang untuk melanjutkan tugas mereka yang sudah deadline besok siang.

Nick pun menyetujui untuk mengakhiri percakapan kali ini dan mengatakan sangat senang bisa kenal dengan Avel yang ternyata memiliki selera musik yang sama dengannya. Dan oleh karena itu, Nick pun sudah mempersiapkan 2 tiket gratis acara mini concertnya nanti. Kemudian segera ia serahkan pada Echa dan Avel serta melambaikan tangan karena mereka berbeda arah tujuan.

Rumah Echa...

“Akhirnyaaaaa.. nyampe rumah juga. Capek.” Ucap Echa sembari merebahkan dirinya di sofa coklat yang sangat comfy itu.

“Hahaha... tapi kita masih punya tugas dengan deadline besok jadi kita begadang, Cha. Bolehlah kita istirahat dulu 15 menit.” Kata Avel walaupun sedikit gusar karena ini sudah agak malam dan berarti dia akan pulang sangat larut malam.

Tiba-tiba mamanya Echa datang menuju tempat mereka baru tiba tadi dengan dua gelas orange juice dan cemilan tentunya. Mama Echa juga menyarankan jika tugasnya selesai larut malam, Avel boleh menginap di kamar kosong depan kamar Echa yang sudah disiapkan oleh mamanya Echa tadi sebelum mereka pulang.

Akhirnya mereka pun mengerjakan tugasnya di gazebo halaman belakang rumah Echa dan benar selesai larut malam. Avel pun tidak gusar karena diizinkan menginap disana bahkan dipinjamkan kaos gombrong Echa yang sangat muat dengan badan Avel.