Echa, gadis berambut ikal-kecoklatan blasteran Perancis-Sunda yang duduk di bangku kelas 1 SMA di sekolah elite kawasan Menteng, Mulia Pertiwi International School sedang asyik berjalan menyusuri taman area komplek rumahnya sepulangnya ia dari sekolah. Seperti biasanya ia duduk di bangku taman yang terletak di sudut taman dan mengarahkan pandangannya ke area lapangan basket. Disana nampak lelaki berperawakan Indonesia yang selisih 2 tahun umurnya dengan Echa. Echa menatapi lekat lelaki itu dengan semakin mempererat genggaman toplesnya.
Avel, cowok berambut hitam tipis yang duduk di bangku kelas 3 SMA sekolah swasta yang terletak di kawasan Menteng, SMA Kencana bermandikan keringat dengan terus men-drible bola basketnya. Setiap sore sepulang sekolah, ia selalu menyempatkan dirinya untuk bermain basket, olahraga favoritenya. Ia tidak menyadari bahwa ada mata yang terus mengamatinya di sudut taman tersebut.
Echa dan Avel merupakan anak-anak komplek Griya Swakarya yang terletak di kawasan Menteng tak jauh dari sekolah mereka masing-masing. Echa sudah memendam rasanya terhadap Avel sejak ia pindah ke Indonesia 3 bulan yang lalu. Saat ia berjalan menyusuri komplek rumahnya sepulang sekolah.
Avel merupakan cowok populer di sekolahnya karena ia kapten tim basket sekolah tersebut. Banyak gadis-gadis sekolahnya yang tertarik dan berusaha menarik perhatian Avel. Namun Avel terlalu cuek, kaku, dan tidak sensitif terhadap usaha para gadis tersebut. Dan Avel pun menyadari sifatnya, kemudian berpikir untuk memilih gadis yang pantas untuk menjadi pasangannya.
Konflik-konflik pun terjadi silih berganti pada kehidupan Echa dan Avel. Dapatkah mereka melalui rintangan demi rintangan? Akankah perasaan Echa terhadap Avel akan terbalaskan? Siapakah yang akan dipilih Avel untuk menjadi pasangannya? Mungkinkah Echa-Avel dapat bersatu menjadi pasangan sejati?