Jumat, 30 Desember 2011

Sebuah Arti

Malu.

Ya hanya itu yang terpikir olehku saat ini.

Setelah sejak siang membaca sebuah artikel pada salah satu blog yang direkomendasikan salah satu teman kuliahku. Artikel itu lumayan panjang dan mungkin jika dilihat sekilas hanya akan meredupkan hasrat untuk membacanya. Namun, menurut temanku cerita artikel ini sangat menyentuh maka aku pun mulai membacanya saat itu juga. Terlebih cerita ini based on true story.

Berikut ini adalah link blog artikel tersebut:

http://christinamariapanjaitan.wordpress.com/

Tak hentinya airmata menetes membasahi pipiku di kala membaca artikel tersebut. Kisah cinta yang menyedihkan namun penuh hikmah. Begitu banyak pesan yang ditinggalkan dalam artikel tersebut, baik itu tersurat maupun tersirat. Perjalanan cinta yang tragis, namun serta merta menjelaskan perjuangan salah satu melanjutkan kehidupan. Kenangan tetap kenangan.

Beberapa kutipan quotes yang menurutku layak untuk diingat:

“Hidup yang tidak diuji, tidak layak untuk dijalani” -Socrates


“Love can not be removed, but it can be substituted”


Setelah selesai baca artikel tadi, aku mulai berpikir. Layakkah untuk galau? Pantaskah mengharapkan cinta yang diinginkan begitu mendalam? Bahkan pasangan yang terlihat begitu serasi dan bahagia pun dapat terpisahkan. Kehilangan.


Aku merasa tak pantas menangis, menitikkan airmata demi cinta yang semu. Rasanya ingin ku tertunduk malu, menenggelamkan kepala dibawah cahaya rembulan. Aku tak sebanding denganmu yang mampu terus berjuang melanjutkan hidup sepeninggalnya. Aku hanya manusia yang penuh ingin. Terlalu terobsesi akan cinta, sedangkan hadirnya tak kunjung tiba. Mungkin aku dapat belajar dengan memahami kata-kata filosofismu. Meskipun keyakinan kita berbeda, namun kita tetap sama yaitu meyakini adanya Tuhan. Hidup itu memang penuh perbedaan. Tuhan menciptakan perbedaan agar hidup semakin indah dan penuh warna.


Mungkin mulai saat ini aku harus bisa menjadi wanita yang kuat. Walaupun tak memungkiri bahwa manusia itu lemah dan bisa mencapai titik terendahnya. Karena disanalah kekuatan Tuhan yang segalanya. Dan satu hal yang harus aku yakini "Tuhan menciptakan makhluknya berpasang-pasangan." Maka seharusnya aku tak perlu khawatir akan hal itu, karena sesungguhnya tak selalu yang kita inginkan itulah yang dibutuhkan. Namun yakinlah dibalik sesuatu hal kelam ada sesuatu hal yang indah menanti.


Sepenggal puisi untuknya yang mungkin tak ia tahu apalagi membacanya,


Aku dan kamu memang selalu bersama
Berbagi dalam suka maupun duka
Rasa-rasa yang begitu melimpah namun ternyata tak setara cinta
Derajat cinta begitu agung, hingga tak sampai ku mampu tuk membawanya
Kehadiranmu sungguhlah anugerah
Tak mungkin ku menampikkan hadirmu
Kau banyak memberi arti di hidupku
Ajarkanku dalam cahaya tuk jauhkanku dari kegelapan
Walaupun terkadang tak sadar kau menyayat hati
Perlahan sayatan itu mendalam namun selalu ku tepis dengan asaku
Kau memang tak pernah tahu
Dalam ketidaktahuanmu, kau tak sadar akan sebuah arti
Dariku untukmu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar