Sabtu, 22 Desember 2012

Kembali


“Bang, air mineral sebotol yaa !” ucap gadis keperawakan Chinese dengan mata sipit dan kulit putihnya yang khas Asia ini sambil mengelap peluh keringatnya dengan handuk kecil pink bunga-bunga yang diujung kiri sisi bawahnya terdapat inisial DAS, Diva Anindya Soedoro, inisial sang empunya handuk tersebut.

Panasnya kota Jogja sore ini tak begitu menyengat kulit Diva, cuaca mendung dan tebalnya awan menghalangi radiasi sinar matahari secara langsung. Tak hanya Diva yang berpeluh keringat sore itu, tapi juga beberapa orang disekitarnya yang juga sedang berlari sore sama halnya dengannya. Diva sangat senang mengisi waktu kosongnya dengan berolahraga terutama berlari sore mengitari Grha Sabha Pramana, tempat yang berada di kawasan kampusnya yang setiap sore selalu ramai dikunjungi orang-orang yang juga ingin berlari sore ataupun hanya sekadar menikmati udara sore.

Setelah satu jam berlari sore, Diva merasa perutnya keroncongan dan teringat bahwa tadi siang ia belum sempat makan makanan berat dan hanya makan dua buah popcakes strawberry yang diberikan Raras, temannya yang senang sekali membuat uji coba berbagai jenis kue dan menjadikan teman-temannya khususnya temannya yang merupakan anak kosan seperti Diva untuk mencicipi kue-kue buatannya.

Diva segera menghentikan olahraganya sore itu dan bergegas menuju mobilnya yang terparkir di sisi timur Grha Sabha Pramana. Ia tak langsung bergegas pergi dari tempat itu, ia hanya menyalakan mesin mobilnya dan memutarkan playlist di I-Podnya yang mengingatkannya pada kenangan itu, kenangan dimana Diva tak sendiri seperti saat ini. Diva kemudian membuka dashboard mobilnya dan meraih botol yang berisikan secarik kertas berwarna merah muda. Lalu, Diva pun membaca kertas itu dengan pandangan menerawang. Andai saja aku punya cukup keberanian waktu itu. Tanpa sadar Diva menitikkan airmata, tanda rindunya yang teramat dalam dan meletakkan kembali botol itu ke dalam dashboard, kemudian segera melesat menuju kosannya.

Dua tahun sudah Diva tak pernah bertemu Evan, bahkan untuk mengirim pesan atau berteleponan juga tidak. Itu semua terjadi sejak ponsel Diva hilang dua tahun yang lalu, ketika ia sedang berdesakan di Pasar Beringharjo. Dan saat ini, orang-orang yang mempunyai nomornya hanya orang-orang terdekatnya atau juga yang bertanya kepadanya melalui email ataupun situs sosial lainnya.

Ketika Diva sedang sibuk berkutat di depan layar laptopnya, ponselnya pun bordering dan bergetar sekali yang menandakan adanya pesan baru masuk. Diva tak pernah menunda untuk membaca sebuah pesan baru yang masuk ke ponselnya.

“Hai, Diva. Apa kabar nih?” -08xxxxxx4100. Sebuah pesan singkat yang cukup membuat Diva heran karena nomor yang tertera di kolom pengirim pesannya itu tidak dikenalinya. Tapi Diva bukan tipe orang yang suka meladeni orang-orang yang tak dikenalnya, apalagi orang-orang iseng yang biasa mengirim pesan kepadanya hanya untuk sekadar kenal atau ingin dekat dengan Diva. Maka dari itu Diva hanya mengacuhkan pesan singkat tersebut dan melanjutkan untuk menyelesaikan tugas kuliahnya.

Namun selang 15 menit, ponselnya kembali bergetar dan Diva pun membaca kembali pesan singkat yang baru saja masuk ke ponselnya. Disana tertera nomor ponsel yang sama, nomor ponsel yang tidak tercantum di kontak ponselnya. Dan seperti sebelumnya, Diva hanya mengacuhkan saja pesan singkat itu.

Dan 10 menit kemudian, ponsel Diva pun bergetar kembali dan Diva dengan ogah-ogahan membuka kembali kotak pesan di ponselnya. Dan membaca pesan singkat yang dikirimkan oleh orang yang sama seperti sebelumnya.

“Maaf lho yaa, aku ga maksud ganggu. Tapi ini apa benar nomor Diva Anindya Soedoro? Pls bls.” -08xxxxxx4100

Diva memerhatikan kembali pesan singkat itu dan berpikir sepertinya sang pengirim pesan itu tidak bermaksud sama seperti orang-orang iseng yang selama ini beredar di kehidupan Diva. Kemudian akhirnya Diva pun membalas pesan singkat tersebut walau hanya dengan satu kata.

“Ya.” Jawaban yang sangat singkat dari Diva tanpa basa-basi yang terlontar sedikit pun didalam pesan itu.
Namun Diva tak menyangka bahwa 5 menit kemudian ponselnya pun berdering dan bergetar panjang yang menandakan bahwa ada panggilan masuk disana. Diva pun melihat nomor ponsel yang tertera di layar ponselnya dan gotcha! Nomor ponsel yang sama tertera disana. Diva pun mengangkat panggilan masuk tersebut dengan rasa sedikit penasaran di benaknya.

“Halo.” Ucap Diva

“Halo, Div. Apa kabar?” ucap seseorang diseberang sana dengan nada suara yang cukup berat.

Diva berpikir sejenak setelah mendengarkan nada suara peneleponnya. Baginya itu bukanlah suara yang asing didengar telinganya tapi seperti sudah lama tak didengarnya. Jangan-jangan…. Pikirnya membatin.
“Baik. Siapa ya?” jawab Diva sekenanya saja dan langsung meluncurkan pertanyaan yang bermekaran di kepalanya sekaligus untuk menjawab segala perkiraan dan menghapus rasa penasarannya.

“Evan, Div. Lama ya ga kontakan sama kamu. Aku coba nghubungin nomormu eh.. ga nyambung-nyambung ternyata udah ga aktif ya nomor yang lama. Baru tau ini nomormu yang baru dari Dwi pas reunian kemarin. Kangen juga sama lo!” jawab Evan panjang lebar menjawab semua rasa penasaran Diva.

Diva hanya terdiam mendengarkan kenyataan bahwa orang diseberang sana adalah orang yang diharapkannya, orang yang selalu hadir dalam ingatannya, dan orang yang sama yang telah membuatnya menunggu selama dua tahun ini.

“Besok gue mau ke Jogja lho, Div. Mau refreshing gitu sekalian mau ketemu lo. Udah lama kan ga ketemu. Nanti main yaaa, see you tomorrow !” ucap Evan menutup percakapannya pada Diva.

“Ha? Oh ya. See you too.” Ucap Diva sedikit gelagapan terlebih ketika Evan menyatakan kerinduannya pada Diva yang membuat debaran jantungnya pun tak menentu. Rasa senangnya malam ini sudah tak tertahan memuncak. Akhirnya kesempatan itu masih ada. Sesuatu yang telah lama hilang pasti akan kembali jika kembalilah takdirnya. Dan Diva pun yakin akan hal itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar