Setelah
kejadian dinner minggu lalu, Echa
sempat uring-uringan dengan perasaannya. Mungkinkah ia merasakan cinta seperti
yang pernah ia rasakan dulu saat di bangku SMP. Ia membuka kembali buku
hariannya dulu ketika SMP. Buku yang bersampulkan warna pink yang identik
dengan warna girly dan bergambarkan
teddy bear besar berwarna cokelat yang duduk memegang bantalan berbentuk hati
warna merah dengan tulisan I Love You warna hitam.
Saat
membuka halaman pertama terdapat identitas dirinya tertulis disana. Dulu ia
bermaksud dengan menuliskan identitas dirinya, apabila buku hariannya hilang
dapat dikembalikan kepadanya oleh orang yang menemukan. Padahal ia sendiri
tidak mau kalau sampai ada orang yang tahu akan keberadaan buku hariannya itu
termasuk orangtuanya karena bagi Echa itu adalah privasinya dan anak juga
memiliki privasinya terhadap orangtua.
Kemudian
ia mulai membaca halaman per halaman yang membuat ia serius berpikir
mengingat-ingat, senyum-senyum sendiri bahkan terkadang tertawa kecil jika
mengingat kejadiannya di masa lalu itu.
Didalam
buku harian itu pulalah tertulis semua awal pertemuannya dengan Nick, cowok
yang menjadi idola sekolahnya sewaktu SMP yang ternyata adalah teman sekelasnya
bahkan teman sebangkunya karena dulu tempat duduk diatur oleh wali kelas mereka
Mr. Frank.
Sejak
saat itulah Echa menjadi dekat dan akrab dengan Nick seperti lem dan perangko
dimana ada Nick disanalah pasti ada Echa juga dan begitu sebaliknya. Nick
memang senang bermusik sejak dulu dan alat musik favoritnya adalah piano. Darah
musisi memang mengalir dalam darah Nick karena ayahnya yang juga seorang musisi
jazz legendaris khususnya pada alat musik saxophone. Mr. Alexander Fitzgerald
ayah Nick, memang selalu giat mewajibkan anaknya untuk dapat menguasai minimal
satu alat musik dan Nick memilih piano karena menurut Nick, piano memiliki nada
yang sangat indah dan ia pun giat berlatih alat musik favoritnya itu.
Dulu
sewaktu SMP, ada salah seorang gadis yang sangat tergila-gila akan Nick. Setiap
harinya dia selalu menyusupkan sebatang coklat putih dan kartu ucapan yang
berisikan kata-kata romantis yang setiap harinya selalu berganti-ganti
kata-katanya. Dan setiap hari pulalah Nick selalu memberikan coklat putih yang
ia dapat dari penggemarnya kepada Echa. Tentunya dengan senang hati Echa selalu
menerima coklat tersebut karena Echa memang hanya menyukai coklat putih
dibandingkan coklat lainnya.
Di
salah satu halaman buku harian itu juga terdapat foto Echa dan Nick saat
merayakan halloween yang ia tempelkan sehari setelahnya. Dalam foto itu, Echa
dan Nick berpakaian ala vampire dan berdandan seseram mungkin dengan memegang
sebuah piala yang mereka menangkan sebagai The Best Dresscode Couple. Mereka
saat itu hanya tertawa-tawa saja karena orang-orang menyebut mereka pasangan
yang serasi dan mereka menganggap anggapan orang-orang sebagai persetujuan
bahwa mereka adalah pasangan sahabat yang serasi bukan kekasih walaupun Echa
agak merasakan perasaan yang lebih dari itu.
Echa
membolak-balikkan lagi halaman buku harian itu lebih cepat dan sampai pada
halaman terakhir saat-saat mereka mengadakan farewell. Disana Echa mengenakan tube dress berwarnakan hitam selutut dengan
high heels merah 7 cm, clutch merah cantik, aksesoris kalung,
gelang, dan cincin serta sentuhan make up
yang sedikit glamour.
Sedangkan
Nick dengan kemeja merah maroonnya ditutupi dengan setelan jas dan dasi yang
senada dengan warna jasnya. Riasan pada Nick hanya nampak pada rambutnya yang
dicat lebih menjadi dark brown karena
warna rambut aslinya yang blonde
sudah membuatnya bosan selama 3 tahun ini.
Echa
dan Nick datang bersama ke acara farewell party tersebut. Makanya mamanya Echa
sudah sangat kenal dengan Nick dan keluarganya terlebih mamanya Nick adalah
rekan kerja mamanya.
Di
tengah-tengah keseriusan Echa saat membaca buku hariannya dan mendalami
kisah-kisahnya dulu, ia tersentak mendengar ringtone ponselnya berbunyi yang
menandakan ada pesan baru didalamnya.
“Echa.”
“Oui, quoi de neuf?” (“Ya, Ada apa?”)
“Je veux vous recontrer a nouveau. Etes-vous occupe cette
semaine?” ("Saya ingin bertemu Anda lagi. Apakah Anda sibuk minggu ini?”)
“Pas. Nous allons nous recontrer !” (“Tidak. Ayo ketemu
!”)
“D’accord, samedi a 4 pm. Est-ce
acceptable?” (“Oke, Sabtu pukul 4 sore. Setuju?”)
“Pas de probleme. Ou?” (“Tidak masalah.
Dimana?”)
“La Rotonde at Montparnasse
Quarter.”
“Puis-je aller avec mon
ami la-bas?” (“Boleh aku ajak teman?”)
“Bien entendu. Mon plaisir.” (“Tentu saja dengan
senang hati.”)
“Ok, vous voir il ya.” (“Oke, sampai
bertemu ya.”)
Berakhirlah
percakapan pesan singkat antara Nick dan Echa saat itu dan segeralah Echa
menghubungi Avel untuk menemaninya ke kafe tersebut. Ya, teman yang dimaksud
Echa pada percakapannya dengan Nick tadi adalah Avel karena Echa dan Avel telah
memiliki janji untuk menyelesaikan tugas mereka sehabis kuliah di rumah Echa.
Tapi mampir dulu di kafe sebentar tidak apalah bagi Echa untuk relaksasi
sejenak sebelum melanjutkan mengerjakan tugas kembali.
“Hey, Avel.”
“Kenapa, Cha?”
“Besok abis pulang kuliah sebelum ngerjain tugas di rumahku
mampir dulu gimana?”
“Mau
ngapain? Kemana?”
“Ada janji sama teman SMPku dulu di La Rotonde. Temenin
yaaaahhh !”
“Hmm.. ya
bolehlah.”
“Oke, Avel. Siplah kalau gitu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar