Selasa, 18 Desember 2012

SSC Part 9


Setelah kejadian dinner minggu lalu, Echa sempat uring-uringan dengan perasaannya. Mungkinkah ia merasakan cinta seperti yang pernah ia rasakan dulu saat di bangku SMP. Ia membuka kembali buku hariannya dulu ketika SMP. Buku yang bersampulkan warna pink yang identik dengan warna girly dan bergambarkan teddy bear besar berwarna cokelat yang duduk memegang bantalan berbentuk hati warna merah dengan tulisan I Love You warna hitam.

Saat membuka halaman pertama terdapat identitas dirinya tertulis disana. Dulu ia bermaksud dengan menuliskan identitas dirinya, apabila buku hariannya hilang dapat dikembalikan kepadanya oleh orang yang menemukan. Padahal ia sendiri tidak mau kalau sampai ada orang yang tahu akan keberadaan buku hariannya itu termasuk orangtuanya karena bagi Echa itu adalah privasinya dan anak juga memiliki privasinya terhadap orangtua.

Kemudian ia mulai membaca halaman per halaman yang membuat ia serius berpikir mengingat-ingat, senyum-senyum sendiri bahkan terkadang tertawa kecil jika mengingat kejadiannya di masa lalu itu.
Didalam buku harian itu pulalah tertulis semua awal pertemuannya dengan Nick, cowok yang menjadi idola sekolahnya sewaktu SMP yang ternyata adalah teman sekelasnya bahkan teman sebangkunya karena dulu tempat duduk diatur oleh wali kelas mereka Mr. Frank.

Sejak saat itulah Echa menjadi dekat dan akrab dengan Nick seperti lem dan perangko dimana ada Nick disanalah pasti ada Echa juga dan begitu sebaliknya. Nick memang senang bermusik sejak dulu dan alat musik favoritnya adalah piano. Darah musisi memang mengalir dalam darah Nick karena ayahnya yang juga seorang musisi jazz legendaris khususnya pada alat musik saxophone. Mr. Alexander Fitzgerald ayah Nick, memang selalu giat mewajibkan anaknya untuk dapat menguasai minimal satu alat musik dan Nick memilih piano karena menurut Nick, piano memiliki nada yang sangat indah dan ia pun giat berlatih alat musik favoritnya itu.

Dulu sewaktu SMP, ada salah seorang gadis yang sangat tergila-gila akan Nick. Setiap harinya dia selalu menyusupkan sebatang coklat putih dan kartu ucapan yang berisikan kata-kata romantis yang setiap harinya selalu berganti-ganti kata-katanya. Dan setiap hari pulalah Nick selalu memberikan coklat putih yang ia dapat dari penggemarnya kepada Echa. Tentunya dengan senang hati Echa selalu menerima coklat tersebut karena Echa memang hanya menyukai coklat putih dibandingkan coklat lainnya.

Di salah satu halaman buku harian itu juga terdapat foto Echa dan Nick saat merayakan halloween yang ia tempelkan sehari setelahnya. Dalam foto itu, Echa dan Nick berpakaian ala vampire dan berdandan seseram mungkin dengan memegang sebuah piala yang mereka menangkan sebagai The Best Dresscode Couple. Mereka saat itu hanya tertawa-tawa saja karena orang-orang menyebut mereka pasangan yang serasi dan mereka menganggap anggapan orang-orang sebagai persetujuan bahwa mereka adalah pasangan sahabat yang serasi bukan kekasih walaupun Echa agak merasakan perasaan yang lebih dari itu.

Echa membolak-balikkan lagi halaman buku harian itu lebih cepat dan sampai pada halaman terakhir saat-saat mereka mengadakan farewell. Disana Echa mengenakan tube dress berwarnakan hitam selutut dengan high heels merah 7 cm, clutch merah cantik, aksesoris kalung, gelang, dan cincin serta sentuhan make up yang sedikit glamour.

Sedangkan Nick dengan kemeja merah maroonnya ditutupi dengan setelan jas dan dasi yang senada dengan warna jasnya. Riasan pada Nick hanya nampak pada rambutnya yang dicat lebih menjadi dark brown karena warna rambut aslinya yang blonde sudah membuatnya bosan selama 3 tahun ini.
Echa dan Nick datang bersama ke acara farewell party tersebut. Makanya mamanya Echa sudah sangat kenal dengan Nick dan keluarganya terlebih mamanya Nick adalah rekan kerja mamanya.
Di tengah-tengah keseriusan Echa saat membaca buku hariannya dan mendalami kisah-kisahnya dulu, ia tersentak mendengar ringtone ponselnya berbunyi yang menandakan ada pesan baru didalamnya.

            “Echa.”
“Oui, quoi de neuf?” (“Ya, Ada apa?”)
“Je veux vous recontrer a nouveau. Etes-vous occupe cette semaine?” ("Saya ingin bertemu Anda lagi. Apakah Anda sibuk minggu ini?”)
“Pas. Nous allons nous recontrer !” (“Tidak. Ayo ketemu !”)
            “D’accord, samedi a 4 pm. Est-ce acceptable?” (“Oke, Sabtu pukul 4 sore. Setuju?”)
“Pas de probleme. Ou?” (“Tidak masalah. Dimana?”)
            “La Rotonde at Montparnasse Quarter.”
                        “Puis-je aller avec mon ami la-bas?” (“Boleh aku ajak teman?”)
            “Bien entendu. Mon plaisir.” (“Tentu saja dengan senang hati.”)
“Ok, vous voir il ya.” (“Oke, sampai bertemu ya.”)

Berakhirlah percakapan pesan singkat antara Nick dan Echa saat itu dan segeralah Echa menghubungi Avel untuk menemaninya ke kafe tersebut. Ya, teman yang dimaksud Echa pada percakapannya dengan Nick tadi adalah Avel karena Echa dan Avel telah memiliki janji untuk menyelesaikan tugas mereka sehabis kuliah di rumah Echa. Tapi mampir dulu di kafe sebentar tidak apalah bagi Echa untuk relaksasi sejenak sebelum melanjutkan mengerjakan tugas kembali.

            “Hey, Avel.”
                        “Kenapa, Cha?”
“Besok abis pulang kuliah sebelum ngerjain tugas di rumahku mampir dulu gimana?”
            “Mau ngapain? Kemana?”
“Ada janji sama teman SMPku dulu di La Rotonde. Temenin yaaaahhh !”
            “Hmm.. ya bolehlah.”
“Oke, Avel. Siplah kalau gitu.”

Echa pun mengakhiri percakapannya dengan Avel dengan senyum sumringah karena semua sesuai rencananya. Maka Echa pun membereskan kembali buku harian yang tadi ia baca dan menyimpannya kembali di tempat khusus tersembunyi karena Echa tidak pernah mau privasinya terusik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar