Tap... Tap... Tap...
Suara dentuman langkah kaki memang selalu terdengar lebih keras di koridor ini, koridor yang merupakan satu-satunya akses menuju pepustakaan yang terletak diujung sebelah kanan dari koridor tersebut.
Saat tiba didepan pintu berwarnakan putih cerah dengan garis kusen jingga yang membuat kesan bahwa akan ada sesuatu yang cerah dibalik pintu tersebut. Ya, anggap saja maksudnya itu adalah pencerahan dalam ilmu tentunya. Inilah perpustakaan yang didalamnya sangat terlihat modern dengan dilengkapi fasilitas-fasilitas teknologi tercanggih abad ini.
Avel segera masuk ke dalam dan menuju rak buku mengenai perpajakan karena kemarin dosen bidang perpajakan Ms. Antoniette menugaskan semua muridnya secara berpasangan untuk mencari sumber-sumber yang terkait dengan laporan yang akan mereka buat, tentunya berkaitan dengan pajak.
Dan pasangan Avel dalam tugas ini tentunya adalah Echa. Karena menurut Avel, dalam mengerjakan tugas jika tugas itu harus berpasangan maka cara paling nyaman adalah dengan orang yang sudah dikenal dekat terlebih sesama Indonesian. Dan Ms. Antoniette juga tidak mempermasalahkan dengan siapa muridnya berpasangan, yang terpenting adalah tugas yang ia berikan dapat diselesaikan dengan baik dan tepat waktu.
Untuk kali ini, Avel harus mencari sumber untuk tugas tersebut sendiri di perpustakaan karena Echa yang sudah punya janji terlebih dahulu dengan ibunya setelah usai kelas terakhir tadi.
Tanpa terasa dia merasa lelah setelah 1 jam mempelajari beberapa buku tentang perpajakan dan mencari sumber yang relevan. Avel pun menggerakkan tangan kirinya spontan dan menyenggol sebuah buku bersampul merah dengan judul 'Puisi Ironis'. Avel merasa tertarik untuk membaca isi buku tersebut walaupun matanya letih tuk melihat rangkaian kata-kata lagi.
Saat Avel membolak-balikkan buku tersebut, ia tertarik pada satu halaman dengan puisi yang berjudul When Loves Come
Like a couple of birds
Flying together
With the voice song each other
And don't understand what is love
Just being together is fine
When the time flies
And being a single bird
Just a voice of quite heard
You never know when loves come
-Mayangrani, 2012
Seketika ada desir halus yang menyentak hatinya. Avel pun hanya bisa terdiam merenungi makna puisi itu dan ia pun tak mengerti apa yang membuatnya tersentak ketika membaca puisi tersebut.
Avel pun menyadari bahwa hari kian senja dan ia memutuskan untuk melanjutkan membaca di rumah saja. Kemudian ia bergegas mengumpulkan buku-buku perpajakan yang sedari tadi ia baca untuk dipinjam dan dipelajari lebih lanjut di rumah. Dan meminjam satu buku lagi, tentunya... buku puisi tersebut.
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar