Soekarno-Hatta International Indonesia Airport...
"Navvvyyyy !!! Gue bakal kangen nih sama lo. Ngobrol bareng, becanda bareng, curhat, shopping ya walaupun window shopping tapi... aaaaa Nav, jangan lupain gue yaaa !" pekik Echa sembari menghamburkan pelukan hangatnya pada sahabatnya itu.
"Iya, Cha. Gue juga bakal kangen sama lo nih. Lo sih kuliah jauh bener." jawab Navy dengan mulut manyunnya yang merajuk manja sambil tetap merangkul erat sahabatnya.
Tak terasa tiga tahun sudah Echa berada di Indonesia, ya tepatnya di Jakarta. Kota yang khas dengan gedung-gedung tinggi, mall, kemacetan dan polusi bahkan banjir di beberapa wilayah di kala musim hujan tiba.
Echa yang telah berhasil menamatkan masa SMAnya di Mulia Pertiwi International School akan melanjutkan jenjang pendidikannya ke bangku kuliah di Ecole Superieure de Commerce Et Management atau yang lebih dikenal dengan Escem School of Business and Management yang terletak di Tours, France. Ia memilih melanjutkan studi kesana selain karena ia kangen Bundanya yang tinggal di Paris, Escem adalah tempat kuliah yang sudah dia idamkan dari sejak ia tamat SMP sehingga Echa seperti dipanggil kembali ke negeri Menara Eiffel itu ketika application form-nya ke Escem diterima.
Sedangkan Navy berencana melanjutkan kuliahnya di Indonesia saja tepatnya di Universitas Gadjah Mada. Setelah secara resmi ia dinyatakan diterima di Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Gadjah Mada, ia pun minggu depan akan mulai hijrah ke kota batik dan bakpia, Jogja untuk mengurus segala keperluannya selama menuntut ilmu disana nanti.
Dari kejauhan Echa melihat sesosok pria tegap yang terasa tak asing lagi dilihat oleh matanya. Ia pun mulai mengendurkan dekapannya pada sahabatnya dan memerhatikan sosok tersebut yang berjalan memasuki pintu keberangkatan terminal 2D yang merupakan terminal yang akan ia masuki pula. Hanya dalam hati Echa pun bergumam. Avel.
Navy yang heran melihat temannya melongo seperti itu langsung refleks menyenggol kecil lengan Echa dihadapannya. Sontak Echa pun tersadar dari longoannya dan mengalihkan pandangannya ke Navy yang menatapnya dengan penuh tanya yang seakan wajahnya saja sudah menyiratkan kalimat "Kenapa lo, Cha?" walaupun tak terlisankan oleh Navy.
"Hemm tadi gue kayak lihat mantan lo. Avel."Ngapain ya dia disini? Kok bisa masuk terminal yang sama? Jangan sampai satu gate apalagi satu flight nih bisa grogi banget. ucap Echa yang selebihnya hanya diteruskan didalam hatinya saja.
"Oh, iya gue denger-denger dari teman sekolahnya dulu katanya dia mau studi di luar tapi gatau deh dimana, Cha. Gue udah ga kontakan lagi ya kan lo tau lah sejak kejadian di mall waktu itu dan kenyataan sesungguhnya." terang Navy dengan diakhiri napas yang berat seakan-akan ingin menghilangkan beban yang teramat dalam.
Kejadian 1 bulan lalu saat Navy sedang jalan-jalan di mall dengan Echa untuk mencari kado ulangtahun mamanya Navy yang akan berulangtahun lusanya. Tanpa sengaja Navy melihat Avel dengan seorang gadis ya boleh diakui sih cantik yang mengapit lengan Avel manja. Navy yang tak tahan melihat itu langsung mengajak Echa segera pergi ke tempat lain dan malamnya Navy memutuskan Avel dengan semua tuduhan tersebut. Yang ternyata baru-baru ini ia ketahui bahwa gadis itu adalah sepupu Avel dari Paris yang sedang berlibur di Jakarta dan saat itu menemani Avel untuk membantu memilihkan kado untuk ulangtahun mamanya Navy.
"Hemm yaa.. sabar ya Nav."Lo terlalu gegabah Nav menyia-nyiakan pria seperti Avel. ucap Echa yang seperti tadi setengahnya hanya terucap didalam hati. Mungkin Echa mulai jago untuk berbicara bahasa hati.
Terdengar suara panggilan boarding dari speaker di tiap sudut bandara yang mengharuskan Echa segera bergegas untuk menuju gate waiting room untuk boarding dan sembari memasuki pintu terminal ia menoleh ke Navy dan melambaikan tangan untuk salam perpisahan.
Saat memasuki pintu pesawat, Echa merasa jantungnya berdegup dan bergetar tak beraturan. Ah kenapa nih? gumamnya dalam hati. Kemudian Echa meneruskan langkahnya dan menatap deretan angka dan huruf untuk mencari seat-nya. Dan tibalah dia dideretan seat-nya dan nampak sosok pria tegap yang sama, sosok pria yang ia lihat tadi saat masih didepan pintu teminal. Avel.
Pantesan aja gue udah ketar-ketir pas masuk pesawat. Huh! gumam Echa kembali dalam hati yang nampaknya akan kian sering ia lakukan. Ia pun melanjutkan langkahnya menduduki seat-nya yang persis bersebelahan dengan seat milik Avel.
"Hai" sapa Avel sembari melepaskan headphone putih yang sedari tadi melekat di telinganya dan dengan dihiasi senyumannya yang khas yang seperti biasa bisa membuat para wanita melting tak terkecuali dengan Echa pastinya.
"Eehh, Hai." jawab Echa gugup tapi tetap mengumbarkan senyuman termanisnya demi membalas senyuman Avel tadi.
"Echa kan? ke Paris juga? Lanjut kuliah disana? Dimana?" tanya Avel yag kata orang-orang terlihat pendiam namun bagi Echa kali ini seperti diinterogasi dengan pertanyaan panjang seperti gerbong kereta api tersebut.
"Hmm, iya aku Echa. Avel kan mantannya Navy? Ups, sorry." kata Echa yang tidak sengaja keceplosan mengucapkan kalimat pertanyaan terakhirnya tadi.
"Hmm iya gpp kok. Oh iya td pertanyaan yang lainnya belom dijawab loh. Hehe" ucap Avel dengan cengirannya yang belum pernah selepas ini dan baru pertama kali Echa melihatnya.
"Oh iya, aku ke Paris. Mau ngunjungin mamaku dulu abis itu mau ke Tours buat ngurus kuliahku disana. Aku kuliah di Escem. Kamu ke Paris dalam rangka apa?" jawab Echa yang diiringi dengan pertanyaan selanjutnya demi terjalinnya komunikasi diantara mereka selama perjalanan. Lumayan ada temen ngobrol, Avel pula.
"Waaahh sama dong aku juga lanjut studi di Escem. Oh mamamu tinggal di Paris toh enak ya ga perlu tinggal di flat sendirian deh." kata Avel nampak begitu cerah entah kenapa.
Percakapan diantara mereka terus berlanjut nampak begitu akrab seperti sudah lama terjalin keakraban seperti ini. Diselilingi canda tawa dan senyuman yang selalu merekah dari keduanya membuat mereka semakin terlihat nyaman dan terasa keakraban. Dan tak lupa Echa-Avel bertukar kontak, agar saat di Paris mereka tetap keep in touch. Maklum tak banyak mahasiswa Indonesia juga disana jadi menjalin keakraban sesama Indonesian sangat penting dilakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar