Maladroit
Echa nampak bersemangat memilih-milih baju yang ada di salah satu shop yang berada di Les Quatre Shopping Mall yang terletak di suatu daerah bernamakan Parvis de La Defense. Ini adalah salah satu shopping center tersibuk di Paris dengan hypermarket dan beberapa shops didalamnya.
Echa hari ini memang sudah janji dengan mamanya untuk menemani berbelanja setelah ia usai kuliah. Ya, Echa pastinya menepati janji sama mama tersayangnya dong. Namun kali ini Echa terlihat sendirian memilih-milih baju di toko tersebut karena mamanya yang memutuskan untuk berbelanja berpencar untuk menghemat waktu. Agar waktu mereka masih tersisa banyak untuk bersiap-siap sebelum melakukan dinner malam ini.
Ya, malam ini Echa dan mamanya berencana untuk mengadakan dinner berdua saja. Mereka menyebutnya mom-daughter time! -it's so funny heard, tapi hal itulah yang biasa mereka lakukan untuk meningkatkan kualitas family-timenya.
"Echa." sapa seorang pria yang terlihat seumuran dengannya, tinggi, tegap, putih layaknya Parisian lainnya, dan charming seperti dulu ya, seperti dulu anak laki-laki idola di sekolahnya saat SMP di Paris.
"Nick? Nicholas Fitzgerald? C'est vous?" jawab Echa dengan pertanyaan balik seakan tak menyangka kalau ia akan bertemu dengan Nick, first love-nya saat ia duduk di bangku SMP.
"Oui, c'est moi. Quand pensez-vous de revenir ici?" jawab Nick meyakinkan Echa bahwa ya inilah dia disini tepat didepan Echa.
"Depuis qui j'ai commence mon college a Tours." jawab Echa singkat karena entahlah Echa merasa sedikit canggung dapat bertemu lagi dengan Nick disini.
"Nice vous rencontrer à nouveau, peut tu me donner ton numéro?" ucap Nick dengan menyunggingkan senyumnya yang indah tapi tak seindah senyuman Avel pikir Echa. Entah kenapa tiba-tiba terlintas wajah Avel yang sedang tersenyum nampak begitu indah di pikiran Echa. Echa segera menghapus lamunan singkatnya itu.
"Bien entendu, cette." jawab Echa sembari menyebutkan nomor ponselnya perlahan kepada Nick.
"Oke merci. vous voir la prochaine fois. au revoir." kata Nick singkat untuk menutup percakapan mereka yang memang sangat singkat itu.
"Vous êtes les bienvenus. au revoir." balas Echa singkat sekenanya.
Setelah itu Echa pun melanjutkan penjelajahan berbelanjanya yang tadi sempat terpotong dengan pertemuan singkatnya dengan Nick first love-nya. Entah apa yang Echa rasakan sekarang terlebih setelah pertemuannya tadi, seakan membuka kembali kenangan-kenangan indahnya dulu dengan Nick.
Tak lama mamanya datang dan menghapuskan kembali lamunan Echa akan kisah cinta monyetnya itu. Dengan 4 kantong besar belanjaan dari hypermart tadi, mamanya menyuruhnya untuk segera bergegas memilih dan segera pulang. Maka Echa pun langsung mengambil pakaian yang telah ia pilih, membayar, dan segera bergegas pulang dengan mamanya.
Rumah...
Echa memilih gaun hitam dan berdandan seminimalis mungkin. Kemudian bergegas menuruni tangga rumahnya untuk menunggu mamanya yang juga sedang berias. Sembari menunggu mamanya, Echa pun menyalakan tv di ruang keluarga dan menonton channel E! News. Tak dia duga ternyata Nick ada dalam berita tersebut yang mengabarkan bahwa Nick akan menggelar mini concertnya. Ya, Nick sekarang sudah menjadi pianis jazz internasional yang diidamkan para wanita di dunia.
"Ternyata Nick udah terkenal. Ga nyangka dari ribetnya dia dulu les piano akan menjadikan dia musisi muda hebat gini." Echa membatin sambil senyum-senyum sendiri. Tak lama kemudian mamanya pun muncul dari dalam kamarnya dan memanggil Echa untuk berangkat. Echa pun mematikan tv dan segera bergegas.
Restoran...
Akhirnya Echa dan mamanya pun tiba di salah satu restoran mahal dan mewah di Paris, L'Avenue yang terletak di 41, Avenue Montaigne. Restoran ini merupakan restoran favorit di kalangan selebritas dunia. Restoran yang bernuansakan suasana eropa dengan bunga sedap malam di sudut ruangan dan sofa berwarna ungu. Restoran ini juga memiliki meja di bagian terasnya. Rata-rata untuk makanan di restoran ini akan menghabiskan biaya 70 euro per orang. Mamanya sengaja memilihkan restoran ini untuk mereka berdua karena sudah lama mereka tidak spent night time bersama. Jadi, untuk sekali-kalinya tidak apa-apa makan di tempat semewah ini menurut mamanya.
Mereka masuk dan duduk di meja khusus dua orang yang sudah dipesan mamanya sejak seminggu yang lalu. Kemudian mereka memesan menu makanan dan minuman favorit khas restoran tersebut. Sambil menunggu pesanan mereka tiba, mereka pun berbincang-bincang membahas kegiatan-kegiatan yang telah mereka lalui selama Echa berada di Indonesia.
Tidak disangka Echa bertemu dengan Nick yang juga sedang makan disana bersama keluarganya. Echa pun menyapa dan lebih tidak disangka-sangka Mamanya Nick menawarkan untuk Echa dan mamanya duduk semeja dengan mereka. Karena ternyata mamanya Nick adalah teman sekantor mamanya. Oh sempitnya dunia batin Echa.
Dinner malam ini pun berlangsung dengan baik dan menyenangkan bagi orang-orang di meja itu tak terkecuali Echa. Suasana mulai riuh dengan canda tawa dan obrolan-obrolan renyah mamanya dan mamanya Nick. Namun Echa merasa satu hari ini selalu berkaitan dengan Nick dan itu membuatnya awkward.
to be continued...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar